Bantul
Bantul Masih Kekurangan Produksi Ikan
Produktivitas budidaya ikan yang masih rendah di Bantul belum mampu mencukupi tingginya permintaan ikan.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Konsumsi masyarakat Bantul terhadap Ikan sangat tinggi.
Namun sayang, produktivitas budidaya lokal masih rendah sehingga belum mampu mencukupi tingginya permintaan ikan tersebut.
Alhasil, untuk menutupi kekurangan yang ada, pasokan ikan untuk masyarakat dan kuliner kaki lima biasanya selain dari petani lokal juga mengandalkan pasokan ikan dari luar daerah.
"Terus terang, pedagang kaki lima yang ada di Bantul selain dari lokal, biasanya ikannya dipasok juga dari luar daerah. Tulungagung atau Boyolali," kata Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Bambang Pin Erwanta pada Tribunjogja.com.
• Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet
Menurut dia, saat ini Bantul sudah memiliki lebih dari 300 kelompok pembudidaya ikan yang tersebar di 17 kecamatan, dengan jumlah anggota dari masing-masing kelompok mencapai 15 - 20 orang.
Produksi ikan dari ratusan kelompok itu mencapai ratusan ton.
Paling banyak ikan Lele, Nila dan Gurame.
Namun, jumlah tersebut hanya mampu mencukupi 60 persen kebutuhan ikan di Bantul.
Sedangkan sisanya masih mengandalkan pasokan dari luar wilayah Yogyakarta.
"Untuk sektor perikanan, kita memang masih mengandalkan 40 persen dari luar," ungkap dia.
• Musim Kemarau, Budidaya Ikan Air Tawar Rentan Terserang Penyakit
Sistem Matlair
Kekurangan produktivitas ikan tersebut, kata Bambang, bisa diambil nilai positif.
Artinya, pangsa pasar untuk kebutuhan ikan di Bantul sebenarnya masih sangat terbuka lebar.
Sebab itu, pihaknya terus mendorong agar masyarakat Bantul mau memulai budidaya ikan.
Satu dari beberapa yang disarankan adalah Matlair, sistem budidaya ikan hemat lahan dan air, contohnya dengan memakai Bioflok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bantul-masih-kekurangan-produksi-ikan.jpg)