Bantul

DPPKP Bantul Lakukan Pemeriksaan Hewan Kurban

Berdasar data yang masuk ke DKPP hingga Minggu (11/8/2019) pukul 13.30, ada 1.125 titik yang melakukan pemotongan hewan kurban.

DPPKP Bantul Lakukan Pemeriksaan Hewan Kurban
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPPKP Bantul, Joko Waluyo ditemui di kantornya Minggu (11/8/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Pertanian Pangan Kelautan Perikanan (DPPKP) Bantul melakukan pemeriksaan hewan kurban pada Iduladha, Minggu (11/8/2019).

Berdasar data yang masuk ke DKPP hingga Minggu (11/8/2019) pukul 13.30, ada 1.125 titik yang melakukan pemotongan hewan kurban.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, DPPKP Bantul Joko Waluyo menguraikan dari jumlah titik tersebut tercatat ada 3.386 ekor sapi, 4.975 ekor domba, dan 2.380 ekor kambing.

Dari hasil pemeriksaan ditemukan 76 kasus cacing hati pada sapi dan 12 temuan pada kambing.

Tips Menyimpan Daging Kurban Agar Awet dalam Waktu Lama

Namun untuk cacing hati ini, agar hati masih bisa dikonsumsi, bagian hati yang kena cacing bisa dipotong atau dibakar.

"Nggak masalah bisa dikonsumsi. Cuma yang hatinya kena cacing nanti dipotong atau dibakar Monggo. Dikonsumsi nggak masalah asal dimasak," ujarnya.

Untuk Iduladha ini, DPPKP Bantul menerjunkan 183 petugas yang terdiri dari 100 mahasiswa Kedokteran Hewan UGM semester akhir dan 83 petugas dari 10 Puskeswan.

Selain soal pengawasan hewan kurban, Joko juga menambahkan agar tidak membuang limbah kotoran hewan kurban ke sungai.

"Kami juga imbau nanti limbah itu jangan sampai di sungai. Kami harapkan nanti dibuat jugangatau lubang terus dipendam," tuturnya.

Bupati Magelang dan Forkompinda Kurbankan 22 Ekor Sapi dan Kambing

"Nyucinya juga pakai air sumur yang mengalir. Harapan kami seperti itu," imbuhnya.

Hal tersebut telah diterapkan oleh Panitia Iduladha Masjid Al Moeladi Diro.

Ketua Panitia Iduladha Masjid Al Moeladi Rusli Irwanto mengatakan, untuk kotoran darah, dibuang dengan cara dipendam. "Kalau darah darah kita kasih garam, baru dikubur agar tidak bau," katanya.

Sementara untuk mencuci jeroan, pihaknya menggunakan pompa air.

"Sudah pakai air sumur, pakai pompa air. Kita semprot pakai itu, kita sediakan alat. Setelah itu direbus agar kumannya mati, kita potong-potong, baru kita kemas," terangnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved