ADVERTORIAL

Merespon Maraknya Isu Intoleransi, UKDW Yogyakarta Adakan Interreligious Dialogue

Para tokoh agama dapat membagi pengalaman dan menganalisa isu-isu yang berkembang di masyarakat dalam konteks hubungan dialog antar umat beragama.

Merespon Maraknya Isu Intoleransi, UKDW Yogyakarta Adakan Interreligious Dialogue
istimewa
Acara “Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya” di Ruang Seminar Pdt Dr Harun Hadiwidjono Kampus UKDW, Selasa (6/8/2019).  

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA - Pusat Studi Agama-agama (PSAA) Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengadakan “Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya” di Ruang Seminar Pdt D. Harun Hadiwidjono Kampus UKDW, Selasa (6/8/2019). Dialog digelar atas keprihatinan melihat maraknya isu intoleransi di Indonesia. 

Ketua PSAA UKDW, Djoko Prasetyo Adi Wibowo menjelaskan, kegiatan dialog ini merupakan penutupan rangkaian acara program Studi Intensif tentang Kristen dan Islam ( SITKI) yang rutin diadakan setiap tahun. '

Lewat kegiatan ini, para tokoh agama dapat membagi pengalaman dan menganalisa isu-isu yang berkembang di masyarakat dalam konteks hubungan dialog antar umat beragama. 

Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas

“Acara yang berlangsung tanggal 28 Juli – 6 Agustus 2019 ini dilakukan di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, kota budaya, dan city of tolerance. Tantangan terbesar dari Kota Yogyakarta yang juga menjadi tantangan bangsa Indonesia adalah tentu saja adalah bagaimana mengelola keberagaman di ranah politik, sosial, dan juga keagamaan,” kata Djoko. 

Djoko Prasetyo menjelaskan, saling belajar dari keunikan masing-masing merupakan kesadaran yang patut disampaikan dalam perjumpaan lintas agama.

“Hal yang berbeda dalam sebuah kemajemukan agama tidak lagi dihindari dan dianggap tabu untuk dibicarakan, justru harus didiskusikan sehingga pemeluknya dapat memahami untuk memperkaya imannya sendiri. Akhirnya terbentuklah pribadi-pribadi yang memiliki integritas utuh, pluralitas menjadi sebuah kesadaran yang dihidupi, tidak hanya sekedar diketahui,” tuturnya.

Adapun narasumber yang diundang sebagai pembicara dalam dialog ini adalah Alamsyah M. Ja’far dari Wahid Institute, Eko Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Teolog i (STFT) Widya Sasana Malang, Haidar Bagir selaku pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) sekaligus pendiri Penerbit Mizan, dan Tulus Warsito dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, Alamsyah M Ja’far menyampaikan hasil penelitiannya atas situasi relasi antar pemeluk agama di Indonesia.

Sementara Eko Armada Riyanto berbicara mengenai interreligious dialoguedi Indonesia dari perspektif akademisi.

Sedangkan DrHaidar Bagir menguraikan dialektika media, sejauhmana media memberikan dampak bagi relasi, perjumpaan, dan dialog antar umat beragama diuraikan secara kritis dan mendalam.

Halaman
12
Penulis: Susilo Wahid Nugroho
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved