Ketahanan Masyarakat Sidoharjo Tepus Gunungkidul Hadapi Kekeringan Lewat Pengelolaan Sumber Daya Air

Hasil pengelolaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk air minum lokal dengan merek Banyu Soka.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/dok. Istimewa
Tanki Air Banyu Soka 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah tantangan kekeringan yang kerap melanda wilayah Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, masyarakat terus berupaya mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Salah satu upaya yang kini menjadi harapan baru adalah pengelolaan sumber mata air lokal menjadi produk air minum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa magang Universitas Amikom Yogyakarta di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB), kondisi ketersediaan air di Kalurahan Sidoharjo masih menjadi tantangan serius, terutama saat musim kemarau.

Menurut Heru Eko Susilo, masyarakat selama ini bergantung pada sistem distribusi air pompa yang penggunaannya terjadwal. Namun, distribusi air tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal.

“Kalau berbicara tentang kondisi ketersediaan air di wilayah kami, terutama saat musim kemarau seperti ini, memang sangat sulit. Sebagian masyarakat menggunakan air pompa dengan sistem meteran, sementara yang tidak menggunakan harus membeli air tangki,” ujarnya.

Berawal dari Kebutuhan Kesedian Air Minum Bersih

Kondisi kekeringan yang sering terjadi di Kalurahan Sidoharjo mendorong masyarakat untuk mencari alternatif sumber air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan Sumur Bor Soka yang pada awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.

Namun, dalam perjalanannya pemanfaatan sumur bor tersebut menghadapi kendala biaya operasional yang cukup tinggi sehingga belum dapat berjalan secara optimal.

Untuk memaksimalkan manfaat sumber air yang tersedia, penggunaannya kemudian dialihkan untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat, terutama pada saat musim kemarau ketika ketersediaan air menjadi semakin terbatas.

Seiring berkembangnya teknologi, masyarakat mulai memahami potensi air tanah di kawasan pesisir dan banyak yang membangun sumur bor secara mandiri.

Kondisi ini membuat pemanfaatan Sumur Bor Soka kembali berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Perkembangan sektor pariwisata di kawasan pesisir Sidoharjo kemudian menjadi babak baru dalam pemanfaatan sumber air tersebut.

Air dari Sumur Bor Soka dimanfaatkan melalui Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes) untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha wisata di kawasan Pantai Sundak, Pantai Ngandong, dan Pantai Indrayanti, serta masyarakat yang berdomisili di wilayah pesisir.

“Pada awalnya dikelola oleh kelompok masyarakat. Karena berada di tanah kas, pemerintah kalurahan kemudian ikut terlibat dalam pengelolaannya,” jelas Heru.

Keterlibatan pemerintah kalurahan bersama masyarakat membuka peluang pengembangan yang lebih luas.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved