Sleman
629 KPM di Sleman Mengundurkan Diri Sebagai Penerima PKH
Rata-rata mereka yang mengundurkan diri adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah merasa mampu dan kesejahteraannya meningkat.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Sosial Kabupaten Sleman mencatat selama semester pertama tahun 2019, ada 629 KK di Kabupaten Sleman akan mengundurkan diri dari daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH).
Rata-rata mereka yang mengundurkan diri adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah merasa mampu dan kesejahteraannya meningkat.
Kepala Dinsos Kabupaten Sleman Eko Suhargono mengatakan jumlah tersebut terus bergerak dan semakin banyak KK yang mengundurkan diri dari program tersebut.
Adapun jumlah penerima manfaat PKH sampai saat ini hampir mencapai 49.800 KK.
• Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas
Angka itu terus turun semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Beberapa patokan yang harus terpenuhi agar keluarga tersebut tidak lagi mendapatkan PKH.
"Misalnya dia memenuhi kriteria 2100 kalori untuk makan selain itu diatas desil 4 diharapkan sudah lepas dari PKH," terangnya saat diwawancarai Tribunjogja.com, Senin (5/8/2019).
Jika sudah empat desil, KPM PKH akan diganti dengan keluarga lain yang berhak.
Eko mengungkapkan, kebanyakan KK yang mengundurkan diri karena kesadaran diri, merasa mampu dari hasil kerja mereka.
Namun diungkapkan Eko, ada juga yang telah dilakukan pendataan ternyata tidak termasuk dalam penerima bantuan PKH.
• Di Gunungkidul, 586 Orang Mundur Sebagai Penerima PKH
Ia mengatakan dengan bantuan dari pemerintah ini semestinya masyarakat sudah mulai menggeliat untuk menyiapkan diri menjadi orang yang lebih produktif.
Maka dari itu, sejauh ini selain memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ada pula bantuan yang sifatnya pemberian keterampilan.
"Sekarang Pemkab Slaman berusaha memberikan bantuan yang sifatnya merangsang warga agar mempunyai keterampilan, bisa memberdayakan diri dan keluarga agar mendapatkah kehidupan yang layak," ujarnya.
"Mereka bukan orang yang harus dikasihani, tapi mereka adalah orang yang belum memiliki kesempatan, dan mau berusaha ke depan menjadi masyarakat yang sejahtera," imbuhnya.
Namun demikian, di lapangan masih ditemukan keluarga yang tergolong mampu tapi mengaku miskin agar bisa ikut mendapat bantuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)