Pendidikan
Borong Penghargaan Riset Internasional, SMPN 5 Yogya Ditetapkan Sebagai Sekolah Riset
Hingga pertengahan Agustus ini, kelompok riset dari SMPN 5 Yogyakarta telah menyabet penghargaan riset internasional.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan SMPN 5 Yogyakarta sebagai sekolah riset.
Hal ini lantaran sekolah tersebut dicap mencetak banyak generasi muda yang berprestasi di bidang riset.
Koordinator Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia SMP se-Kota Yogyakarta, Abdurrahman menjelaskan bahwa hingga pertengahan Agustus ini, kelompok riset dari SMPN 5 Yogyakarta telah menyabet penghargaan riset internasional.
Tak tanggung-tanggung, lima penghargaan dari kompetisi berbeda diboyong ke Kota Yogyakarta.
• Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual
"Sebelumnya pada 2017 hanya ada 1 kelompok, 2018 ada 1 kelompok, tahun ini sudah ada 5 kelompok di 3 ajang internasional," jelas Abdurrahman saat ditemui Tribunjogja.com di sela-sela acara Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia SMP se-Kota Yogyakarta di Taman Pintar, Rabu (24/7/2019).
Ia pun menyebutkan, untuk ajang riset internasional yang digelar di Malaysia, pelajar Yogya memanfaatkan daun asam sebayai baterai.
Penemuan tersebut diganjar emas dalam kategori ilmu lingkungan.
Selanjutnya di ajang riset internasional di Turki, selai kacang mentega yang dijadikan obat diabetes mendapatkan perunggu di kategori biologi, sementara riset tentang sisik ikan yang digunakan sebagai bumbu juga memperoleh perunggu di bidang kimia.
Selain itu di bidang lingkungan, detektor longsor via handphone juga menyabet perak di kategori teknik.
• Siswa SMPN 5 Yogyakarta Raih Emas Kompetisi Matematika Nalaria Realistik
"Lalu di ajang internasional yang diselenggarakan di Bali, mereka menampilkan riset di bidang sosial yakni Abdi Dalem sebagai Pewaris Empat Krida Watak Satria untuk Generasi Z mendapatkan perak dan spesial award tingkat internasional," ujarnya.
Abdurrahman membeberkan, bahwa ajang riset internasional tidak membedakan jenjang pendidikan.
Patokannya adalah umur yakni 14-19 tahun.
Sementara yang bersaing di dalamnya mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi.
"Dan yang bikin bangga adalah, tak ada satu pun dewan juri asal Indonesia di ajang-ajang tersebut," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/borong-penghargaan-riset-internasional-smpn-5-yogya-ditetapkan-sebagai-sekolah-riset.jpg)