Kulon Progo
Lindi dari TPAS Banyuroto Cemari Sumur Warga
Lindi dari TPAS Banyuroto dikeluhkan kerap meresap ke dalam sumur warga setempat.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Lindi dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Banyuroto, Kecamatan Nanggulan dikeluhkan kerap meresap ke dalam sumur warga setempat.
Air sumur menjadi berbau menyengat hingga tak dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Kondisi itu sudah terjadi sejak beberapa tahun silam setelah pipa yang mengalirkan lindi menuju sungai rusak diterjang banjir.
Lindi lalu dialirkan ke dam penampungan untuk proses peresapan.
• Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual
Hanya saja, ketika hujan deras melanda, lindi turut tercampur air hujan mengalir ke area pemukiman lalu meresap ke sumur warga di wilayah Pedukuhan Sambiroto, Desa Banyuroto yang berjarak sekitar 2 kilometer di area bawah TPAS hingga airnya berbau tak sedap.
"Ada sekitar 40 kepala keluarga di wilayah RT 47,48, dan 49 yang terdampak. Kalau masih hujan, airnya keruh dan berbau meski masih bisa dipakai. Kami sudah berulang kali meminta pengelola TPAS untuk memperbaiki saluran tapi sampai sekarang belum ditindklanjuti," kata tokoh warga Sambiroto, Bambang Nur Cahyo pada Tribunjogja.com, Senin (15/7/2019).
Perkembangan belakangan ini, pemilik lahan sawah yang digunakan sebagai dam penampungan lindi itu telah meminta kembali tanahnya.
Lindi konon akan dialirkan kembali melalui jaringan pipa menuju sungai.
Untuk itu, sambung Bambang, warga meminta agar Pemerintah Kabupaten Kulon Progo membangun talud di pinggiran sungai kecil itu untuk mencegah meresapnya kembali cairan lindi ke sumur warga.
Pada 2014 lalu, warga juga sudah pernah melakukan aksi protes atas kondisi tersebut.
Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo yang mengelola TPAS Banyuroto kala itu menjanjikan perbaikan sistem pengelolaan maupun pembuangan lindi tersebut. Hanya saja, hingga saat ini ternyata belum terealisasi.
"Air yang mengalir ke dam itu harusnya layak minum. Tapi, kalau ini (lindi) kan airnya hitam. Ular dan kodok saja mati. Kalau tidak segera ditalud, kami khawatir sumur tercemar lagi kalau hujan deras," kata Bambang.
• Gemilpah, Solusi Memilah Sampah Buatan Mahasiswa UGM
Warga RT 48, Rubiyem mengatakan sumurnya berjarak sekitar 50 meter dari sungai yang tercemar lindi.
Saat musim hujan, air sumur mengeruh dan berbau tak sedap hingga kadang keluarganya ragu memakainya untuk kebutuhan minum, masak, dan mencuci.
Terpaksa, mereka membeli air galon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lindi-dari-tpas-banyuroto-cemari-sumur-warga.jpg)