Sleman
Lahan Pertanian Seluas 148 Hektare di Sleman Alami Puso
Menurutnya hal ini dikarenakan para petani masih mengacu pola tanam tahun kemarin.
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kemarau yang melanda mengakibatkan petani gagal panen di wilayah Sleman.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Heru Saptono mengatakan puso atau kondisi lahan tidak mengeluarkan hasil mencapai 148 hektar di wilayah Prambanan.
Seluruh wilayah yang mengalami puso berkomoditi padi gogo.
Menurutnya hal ini dikarenakan para petani masih mengacu pola tanam tahun kemarin.
• Dampak Musim Kemarau, 400 Hektare Lahan Pertanian Padi di Gunungkidul Puso
"Padahal pola musim tahun ini beda dengan tahun kemarin. Tahun kemarin adalah Lanina, artinya meskipun musim kemarau masih ada hujan atau biasa kemarau basah. Tapi kalau sekarang kebalikannya, elnino, yang tidak ada hujan," ujarnya Senin (15/7/2019)
Meski mengalami puso di Prambanan, namun diakuinya hal itu tidak mempengaruhi produksi beras di Sleman.
Menurutnya angka 148 hektar yang puso masih kecil dibandingkan luas tanam di Sleman yang mencapai 18.313 hektar di tahun ini.
"Jadi tidak begitu berpengaruh," ujarnya.
• 21 Hektar Lahan Pertanian Terancam Puso, Petani Bantul Rugi Rp 40 Juta
Ia melanjutkan, selain wilayah Prambanan yang sudah mengalami puso, ada juga wilayah lain yang terancam kekeringan dan puso, yakni di wilayah Kalasan.
"Di Kalasan 50 hektare yang terancam. Di tahun kemarin mengalami kekeringan lahan sawahnya. Maka untuk saat ini kita siapkan pompa air untuk bantuan," imbuhnya.
Ia menyebut, di wilayah Kalasan air tidak sampai di lahan persawahan, dan kebanyakan terjadi di utara Selokan Mataram.
Sedangkan di selatan relatif bisa ditanami meskipun palawija.
Adapun ancaman kekeringan ini juga diprediksi terjadi di beberapa wilayah lainya. BMKG mengimbau masyarakat agar waspada dan berhati-hati terhadap potensi kekeringan yang berdampak pada sektor pertanian dengan tadah hujan, pengurangan ketersediaan air tanah (kelangkaan air bersih) dan peningkatan potensi kemudahan terjadinya kebakaran.
• Dua Hektar Lahan Padi Puso Akibat Wereng
Dari hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH) dari BKMG, terdapat 49 kecamatan yang berstatus Awas potensi kekeringan meteorologis.
Kondisi ini adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normal dalam jangka waktu yang panjang, bisa satu bulanan, dua bulanan, tiga bulanan atau lebih lama lagi.
Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatkan status awas, telah mengalami HTH lebih dari 60 hari dan prospek curah hujan rendah, kurang dari 10 mm/10 hari terjadi di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunungkidul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)