Astronom Berhasil Deteksi Asteroid Mini Sebelum Menghantam Bumi

Asteroid 2019 MO ditemukan melalui sistem penyigi langit Atlas Project Survey di Hawaii. Sebelas jam kemudian, asteroid itu menghantam Bumi.

IST
Ilustrasi asteroid mendekati Bumi 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebuah asteroid mini yang baru saja ditemukan diketahui telah jatuh ke Bumi hanya berselang beberapa jam kemudian.

Asteroid 2019 MO, sebelumnya dikenal dengan kode asteroid A10eoM1, ditemukan melalui sistem penyigi langit Atlas Project Survey yang berpangkalan di Observatorium Mauna Loa, Hawaii (Amerika Serikat) pada Sabtu 22 Juni 2019 pukul 10 UTC.

Sebelas setengah jam kemudian, yakni pada pukul 21:30 UTC, asteroid terdeteksi telah jatuh di kawasan Laut Karibia sejauh 400 km sebelah selatan Dominika.

Bahan Kimia Triclosan pada Pasta Gigi dan Sabun Bisa Memicu Osteoporosis

Dengan peristiwa ini, maka asteroid 2019 MO menjadi asteroid keempat yang berhasil dideteksi keberadaannya sebelum memasuki atmosfer Bumi sepanjang sejarah manusia.

Ketiga asteroid lainnya adalah asteroid 2008 TC3 (jatuh 8 Oktober 2008), asteroid 2014 AA (jatuh 1 Januari 2014) dan asteroid 2018 LA (jatuh 2 Juni 2018).

Asteroid 2019 MO memiliki diameter sekitar 3 meter dan semula merupakan asteroid yang mengorbit Matahari pada sebentuk orbit lonjong dengan perihelion 0,938 SA dan aphelion 4,01 SA pada kemiringan orbit (inklinasi) hanya 1,5º.

Asteroid membutuhkan waktu sekali mengelilingi Matahari setiap 3,89 tahun sekali. Asteroid ini mengalami resonansi orbital 3:1 terhadap planet Jupiter, yang bermakna asteroid telah tepat mengedari Matahari 3 kali manakala Jupiter tepat sekali mengeilingi sang surya.

Resonansi ini menyebabkan orbit asteroid cenderung tak stabil sehingga terus berubah secara gradual dari waktu ke waktu.

Inilah yang membuatnya tepat berpotongan dengan orbit Bumi, sehingga asteroid pun jatuh ke Bumi sebagai tumbukan benda langit.

Asteroid jatuh dari arah barat daya (azimuth 220º) dengan membentuk sudut 27º terhadap paras Bumi yang menjadi titik targetnya.

Saat mulai memasuki atmosfer Bumi, asteroid melesat secepat 22 km/detik. Selimut udara Bumi membuatnya kian diperlambat seiring ketinggiannya yang kian menurun.

Perlambatan itu membuat asteroid berpijar sangat terang sebagai meteor-terang (fireball).

Pada puncaknya, diprakirakan meteor-terang itu jauh lebih benderang dari Bulan purnama dan mencapai 1/36 kali lipat kecemerlangan Matahari.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved