Yogyakarta

Perlu Jiwa Negarawan dan Pengorbanan

Tim ahli Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Heri Santoso menerangkan, kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini masih jauh dari nilai-nilai

Perlu Jiwa Negarawan dan Pengorbanan
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tim ahli Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Heri Santoso menerangkan, kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini masih jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Heri mengatakan, sila-sila yang terangkum dalam Pancasila masih jauh panggang dari api dan belum sepenuhnya mengakar dalam kehidupan masyarakat maupun para penyelenggara negara.

Hal itu tercermin dalam penyelenggaraan demokrasi pada 17 April lalu sebagai representasi sila ke empat Pancasila.

Sanksi Ancam PNS Pembolos Upacara Hari Lahirnya Pancasila

Ia menganggap Pancasila benar-benar diuji pada momentum itu.

Pasalnya masyarakat terpolarisasi dan berseberangan hingga menimbulkan korban.

"Adanya dua kelompok ini kan sama-sama mengklaim Pancasilais. Satu sisi ada yang mengatakan kelompok lain inkonstitusional. Yang lain menganggap kelompok sebelah mengingkari kedaulatan rakyat," kata Heri saat dihubungi Tribun Jogja, Jumat (31/5/2019).

Ia juga menganggap, adanya anggapan dari sebagian kalangan yang menyatakan institusi penyelanggara negara berlaku tidak adil merupakan sesuatu yang perlu diseriusi.

Pemkot Yogyakarta Terima Dua ASN Luar Daerah Ikut Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

"Situasi ini mirip dengan kejadian di masa lalu, bahwa Pancasila ditafsirkan sepihak oleh mereka yang berkepentingan," jelasnya.

Lebih jauh, Heri berpendapat bahwa tiap sila yang terkandung dalam Pancasila perlu dipertanyakan terhadap kondisi dan negara saat ini.

"Dari kelima sila kita silahkan pertanyakan apakah sudah terwujud," ungkapnya.

Pada situasi kritis saat ini, disebutnya perlu jiwa-jiwa kenegarawanan dan pengorbanan diantara para elite penyelenggara negara.

Jika lembaga-lembaga negara dan para tokoh gagal mengatasi masalah-masalah di atas, bangsa ini berada dalam ancaman besar, baik secara internal, maupun ancaman eksternal yang berpotensi disintegrasi bangsa.

"Pertanyaannya siapa yang masih dapat menjadi perekat di saat bangsa hampir terbelah seperti sekarang ini? Yang terjadi adalah situasi distrust yang sudah akut," imbuhnya.

PWS Yogyakarta Sosialisasikan Pancasila Lewat Diskusi Kebangsaan

Heri mengungkapkan, kalaupun masih ada optimisme, maka yang dapat dilakukan adalah memulai keyakinan bahwa masih ada mahasiswa, TNI, Pers, akademisi, politisi, agamawan, budayawan dan tokoh-tokoh yang masih memiliki integritas, kejujuran, kecintaan pada NKRI dan Pancasila.

"Kelompok inilah yang diharapkan bergerak untuk menyelamatkan Pancasila dan NKRI dari orang-orang yang menjadikan Pancasila kedok kemunafikan saja, atau bahkan orang-orang yang ingin mengganti Pancasila. Ini tantangan kita bersama di saat memperingati 74 tahun gagasan lahirnya Pancasila," tutupnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved