Kisah Anggota Brimob yang Tetap Berpuasa saat Menghadapi Demo 22 Mei
Menjaga Aksi 22 Mei di bulan Ramadan menjadi tantangan sendiri bagi anggota TNI-Polri. Mereka harus menahan haus dan lapar di bawah terik matahari
Robby mengharapkan aksi 22 Mei yang dikawalnya berjalan lancar tanpa adanya benturan dengan masyarakat. "Aksi tidak apa-apa, asal berjalan tertib," ucapnya.
Ia pun mengatakan kerap melakukan pendekatan persuasif kepada massa.
Sempat seorang perempuan peserta aksi hendak memberikan bunga kepadanya, namun dia tolak.
"Saya sudah punya istri Bu," ucap Robby disambut tawa sang demonstran.
• MUI Desak Kepolisian Usut dan Tindak Tegas Dalang di Balik Kerusuhan Aksi 22 Mei
Tak selang beberapa lama, azan Maghrib berkumandang. Robby mengambil botol air mineral lalu minum. "Alhamdulillah, silakan Mas," seraya menawarkan botol air mineral.
Saat tengah berbincang, massa dan aparat kepolisian mulai menjalankan salat Maghrib.
Seusainya, ada seruan seorang orator dari atas mobil komando untuk membubarkan massa.
Robby dan Satuan Brimob lain sempat melambaikan tangan kepada para peserta aksi seraya bernyanyi, "Terima kasih, terima kasih salam dari kami, terima kasih."

Tidak berselang lama, petasan meluncur dari arah Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim arah Tanah Abang.
Petasan itu hendak mengarah ke gedung Bawaslu. Serentak Satuan Brimob Polri membentuk formasi bertahan menggunakan tameng ke arah depan dan di atas kepala.
Robby bergegas meninggalkan perbincangan untuk membentuk formasi bertahan. (Tribun Network/den)