Pendidikan

UMBY Bentuk Kader dan Transfer Ilmu Manajemen Pariwisata Berbasis IMC di Desa Wisata Bukit Mojo

Pengembangan potensi wisata seharusnya dapat dilakukan dengan konsep terintegrasi antara fasilitas fisik dan pengelolaan manajemen pariwisata.

Tayang:
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Gaya Lufityanti
IST
Logo Universitas Mercu Buana Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta memiliki banyak desa wisata berbasis wisata alam yang potensial untuk dikembangkan.

Sayangnya, kesadaran pengembangan wisata saat ini masih dipahami hanya sebatas pada penambahan fasilitas fisik saja.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta (FIKOMM UMBY), Rani Dwi Lestari menuturkan, pengembangan potensi wisata seharusnya dapat dilakukan dengan konsep terintegrasi antara fasilitas fisik dan pengelolaan manajemen pariwisata.

Dua Rekomendasi Brand Fashion Lokal Kekinian

"Dalam manajemen pariwisata, ada banyak hal yang perlu dikembangkan, di antaranya upgrading sumber daya manusia pengelola wisata untuk bisa menjadi kader wisata yang tak hanya mampu mengelola potensi wisata secara konvensional tetapi harus berbasis teknologi," tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunjogja.com, Rabu (15/5/2019).

Menurutnya, pembentukan kader desa wisata menjadi hal yang penting dilakukan mengingat saat ini pengelolaan wisata khususnya desa wisata berbasis wisata alam masih dilakukan secara swadaya.

"Kami berinisiatif untuk memberikan pengetahuan mengenai pengembangan desa wisata dengan konsep manajemen pariwisata berbasis Integrated Marketing Communication (IMC) dengan membentuk kader desa wisata," jelasnya.

Pembentukan kader dan transfer ilmu manajemen pariwisata berbasis IMC sendiri dilakukan melalui rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen FIKOMM UMBY berkolaborasi dengan dosen di bidang keilmuan lain khususnya Teknologi Informasi.

Tukar Pecahan Uang untuk Lebaran, BI DIY Siapkan Rp 7 Triliun

Lokasi yang dipilih adalah Desa Wisata Bukit Mojo, Gumelem, Mangunan Bantul.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut nantinya akan diberikan arahan materi dari pakar komunikasi pemasaran terpadu, pelatihan penggunaan teknologi informasi berbasis website dan media sosial, pengembangan potensi kekhasan wisata serta manajemen promosi dan pengelolaan wisata berbasis teknologi multimedia.

Lanjutnya, problem pengelolaan wisata di Bukit Mojo dan beberapa spot wisata alam di sekitarnya adalah tidak adanya kader sadar wisata yang melek teknologi.

Hal ini menjadikan proses promosi wisata terhambat karena hanya dilakukan secara manual.

Sementara di sisi lain, wisatawan saat ini banyak memanfaatkan teknologi seperti website dan media sosial sebagai referensi mencari tempat wisata.

"Karenanya, pembentukan kader sadar wisata yang melek teknologi menjadi hal krusial yang harus dilakukan untuk menunjang promosi wisata yang lebih interaktif dan massif," paparnya.

Tidak Perlu Perda, PNS Pemkot Yogya Terima THR 24 Mei

Kondisi ketimpangan teknologi tersebut juga dibenarkan oleh Ketua Pengelola Desa Wisata Bukit Mojo, John Maulana.

Menurutnya, Bukit Mojo yang mengunggulkan spot selfie wisata alam dalam beberapa waktu belakangan mengalami penurunan kunjungan wisatawan karena minimnya promosi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved