Bantul
Sambut Ramadan, Tradisi Nyadran Agung Digelar di Makam Sewu
Nyadran Agung ini digelar setiap tahun pada tanggal 20 Syakban atau hari Senin setelah 20 Syakban dalam kalender Islam.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
"Sejak malam Ahad dengan semakan Alquran, dzikir tahlil, Senin pagi dzikir tahlil juga. Dan siangnya kenduri mengarak ubarampe bawa makanan untuk disedekahkan yang dimasukkan ke jodang," jelasnya.
Sedekah juga berupa hasil bumi seperti sayur-mayur dan buah-buahan dalam wujud gunungan sekaligus untuk merti dusun.
Segala macam ubarampe dalam jodang dan gunungan didoakan sebelum dibagikan ke masyarakat.
• KPU Bantul Upayakan Petugas KPPS yang Meninggal Dapat Santunan dari Pemkab Bantul
Tak heran, ribuan masyarakat antusias memenuhi pelataran di sekitar pendopo kompleks Makam Sewu untuk menanti rayahan gunungan.
Setelah doa selesai, masyarakat langsung menyerbu gunungan yang terletak di tengah pendopo.
Usai merayah gunungan, dilakukan tabur bunga di makam-makam.
Tabur bunga ini untuk memberi tumbuh-tumbuhan di atas makam.
Dipercaya, tumbuhan ini sebagai makhluk yang terus berzikir terus kepada Tuhan.
"Tabur bunga saat ziarah kubur kan disunahkan, tabur bunga ini untuk memberi tetumbuhan, tetumbuhan itu baca dzikir sebagai makhluk Gusti Allah yang dzikir terus," kata Haryadi.
Pada pelaksanaan Nyadran Agung tahun ini diampu oleh sekitar 5 dukuh.
Setiap tahunnya dilakukan bergantian.
"Tahun ini tahun ganjil jadi dukuh 1-5, tahun genap nanti 6 sampai 10. Tiap tahun ada 8 pedukuhan yang ikut," terangnya.
• Pelaksanaan Boga Sehat di Bantul Masih Ada Kendala
Menjadi spesial karena hajatan ini melibatkan warga di 3 desa di 2 kecamatan yakni Desa Wijirejo di Kecamatan Pandak, Desa Guwosari dan Desa Sendangsari di Kecamatan Pajangan.
"Anggarannya, kita dari dana desa sebesar Rp15 juta dan Dinas Kebudayaan juga memberi fasilitas Rp25 juta, serta dari masyarakat untuk makanannya," ungkapnya.
Selain Nyadran, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan peresmian Makam Sewu sebagai cagar budaya oleh Bupati Bantul, Suharsono.
Ia berharap masyarakat dapat menjaga cagar budaya tersebut sekaligus menjaga tradisi nyadran.
Menurutnya, nyadran ini sebagai simbol kerukunan dan gotong-royong di masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.
"Semoga tambah maju, regeng desanya. Adat budaya Jawa kan gotong-royong. Perlu kita lestarikan silaturahmi dan guyub rukun sesama warga ini," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sambut-ramadan-tradisi-nyadran-agung-digelar-di-makam-sewu.jpg)