Bantul
Sambut Ramadan, Tradisi Nyadran Agung Digelar di Makam Sewu
Nyadran Agung ini digelar setiap tahun pada tanggal 20 Syakban atau hari Senin setelah 20 Syakban dalam kalender Islam.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ribuan masyarakat tumpah ruah di tepi jalan menyaksikan Kirab Jodang yang mengawali tradisi Nyadrang Agung di Makam Sewu, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Senin (29/4/2019) sore.
Dari pantauan Tribunjogja.com, arak-arakan prajurit, gunungan, dan jodang ini dimulai dari Balai Desa Wijirejo menuju Makam Sewu.
Jodang atau kotak panjang yang dipakai untuk menaruh ubarampe ini dipikul oleh empat orang berpakaian adat.
Ubarampe terdiri dari nasi uduk/nasi gurih, ingkung, ketan, kolak, dan apem yang masing-masing memiliki makna.
• Sewindu Tribun Jogja, Bertekad Jadi Media Rujukan dalam Era Revolusi Industri 4.0
Haryadi, ketua panitia penyelenggara Nyadran Agung 2019 ini membeberkan satu demi satu makna dari ubarampe tersebut.
"Sega wuduk (nasi uduk) lambang kemakmuran dan ingkung lambang pengabdian total, siap lahir batin untuk warga," katanya saat ditemui Tribunjogja.com di sela acara.
Lanjutnya, ketan berasal dari kata berbahasa Arab yang bermakna kesalahan.
"Dari kata 'khotoan' itu artinya kesalahan, terus kolak, 'khola' itu nggak apa-apa, lalu 'afwan' jadi apem. Artinya punya kesalahan, tapi nggak apa-apa asal minta maaf," terangnya.
"Artinya kita harus senantisana meminta maaf atas kesalahan kita termasuk kepada yang sudah meninggal," lanjutnya.
Nyadran sendiri juga diambil dari serapan salam berbahasa Arab yang diucapkan saat akan berziarah di makam.
• Beberapa Penerima Program Boga Sehat di Bantul Lebih Suka Bantuan Tunai
"Aslinya nyadran itu sebagai bentuk ibadah ritual murni umat Islam, khususnya pada yang sudah meninggal. Karena perilaku mereka itu mengunjungi makam sebelum bulan ramadan, biar bersih lahir batin hubungannya dengan sesama manusia," jelasnya.
Juga, katanya, penting untuk meminta maaf kepada yang sudah meninggal.
"Supaya hubungannya harmonis minta didoakan kepada Tuhan, mudah-mudahan diampuni dosanya, kan gitu," paparnya.
Nyadran Agung ini digelar setiap tahun pada tanggal 20 Syakban atau hari Senin setelah 20 Syakban dalam kalender Islam.
Dalam Nyadran Agung ini juga digelar rangkaian acara yang dimulai sejak Sabtu malam.
"Sejak malam Ahad dengan semakan Alquran, dzikir tahlil, Senin pagi dzikir tahlil juga. Dan siangnya kenduri mengarak ubarampe bawa makanan untuk disedekahkan yang dimasukkan ke jodang," jelasnya.
Sedekah juga berupa hasil bumi seperti sayur-mayur dan buah-buahan dalam wujud gunungan sekaligus untuk merti dusun.
Segala macam ubarampe dalam jodang dan gunungan didoakan sebelum dibagikan ke masyarakat.
• KPU Bantul Upayakan Petugas KPPS yang Meninggal Dapat Santunan dari Pemkab Bantul
Tak heran, ribuan masyarakat antusias memenuhi pelataran di sekitar pendopo kompleks Makam Sewu untuk menanti rayahan gunungan.
Setelah doa selesai, masyarakat langsung menyerbu gunungan yang terletak di tengah pendopo.
Usai merayah gunungan, dilakukan tabur bunga di makam-makam.
Tabur bunga ini untuk memberi tumbuh-tumbuhan di atas makam.
Dipercaya, tumbuhan ini sebagai makhluk yang terus berzikir terus kepada Tuhan.
"Tabur bunga saat ziarah kubur kan disunahkan, tabur bunga ini untuk memberi tetumbuhan, tetumbuhan itu baca dzikir sebagai makhluk Gusti Allah yang dzikir terus," kata Haryadi.
Pada pelaksanaan Nyadran Agung tahun ini diampu oleh sekitar 5 dukuh.
Setiap tahunnya dilakukan bergantian.
"Tahun ini tahun ganjil jadi dukuh 1-5, tahun genap nanti 6 sampai 10. Tiap tahun ada 8 pedukuhan yang ikut," terangnya.
• Pelaksanaan Boga Sehat di Bantul Masih Ada Kendala
Menjadi spesial karena hajatan ini melibatkan warga di 3 desa di 2 kecamatan yakni Desa Wijirejo di Kecamatan Pandak, Desa Guwosari dan Desa Sendangsari di Kecamatan Pajangan.
"Anggarannya, kita dari dana desa sebesar Rp15 juta dan Dinas Kebudayaan juga memberi fasilitas Rp25 juta, serta dari masyarakat untuk makanannya," ungkapnya.
Selain Nyadran, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan peresmian Makam Sewu sebagai cagar budaya oleh Bupati Bantul, Suharsono.
Ia berharap masyarakat dapat menjaga cagar budaya tersebut sekaligus menjaga tradisi nyadran.
Menurutnya, nyadran ini sebagai simbol kerukunan dan gotong-royong di masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.
"Semoga tambah maju, regeng desanya. Adat budaya Jawa kan gotong-royong. Perlu kita lestarikan silaturahmi dan guyub rukun sesama warga ini," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sambut-ramadan-tradisi-nyadran-agung-digelar-di-makam-sewu.jpg)