Jawa
Belajar Aksara Kawi, Membaca Prasasti, Menelisik Asal Usul Kota Magelang
Penduduk Magelang atau Mantyasih telah memiliki identitas atau jati diri yang kuat sejak awal abad X, atau sekitar tahun 900 Masehi.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
Mantyasih berarti cinta kasih yang sempurna.
Sementara Galang atu Glam dan Glanggang mungkin berubah nama menjadi Gelang atau Magelang.
"Dalam bahasa jawa Kuno, nama Glang, Galang berarti lingkaran. Mandala dengan lingga di tengahnya, atu gunung tidar yang menjadi paku titik tengah pulau Jawa," ujarnya.
Kesimpulannya, dalam data pada prasasti tersebut, setidaknya dapat diketahui bahwa penduduk Magelang atau Mantyasih telah memiliki identitas atau jati diri yang kuat sejak awal abad X, atau sekitar tahun 900 Masehi.
Baca: Ratusan CPNS Kabupaten Magelang Terima SK, Wakil Bupati: ASN Harus Cerdas Sambut Revolusi 4.0
Terbukti dari penetapan Sima, sebagai anugerah atas sifat setia dan bakti kepada raja, berbakti kepada tuhan, dan mampu mengamankan jalan raya serta menghilangkan rasa takut penduduk.
Goenawan pun mengatakan, berdasarkan data-data yang ada di prasasti, masalah jatdiri Magelang dapat diteliti lebih lanjut.
"Ini datanya dan kenyataannya. Bukan karena menggungat hari jadi, tetapi kami disini sekedar menunjukkan data bahwa desa di sekeliling di Mantyasih, kepala desa diundang untuk menyaksikan ternyata daerahnya berada di Ttemanggung di bagian utara sangat jauh-jauh dari sini. Seperti data yang tertulis di prasasti tersebut," katanya.
Sementara itu, Guru sejarah dari SMA Negeri 14 Semarang, Ika Dewi Retnosari, mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan guru sejarah lain.
Kegiatan sinau aksara jawa kuno ini membuka wawasan sejarah yang nantinya akan ditularkan kepada anak-anak.
"Supaya anak-anak tidak memahami sejarah, di buku-buku saja, sebenarnya sejarah kita banyak, tetapi tidak terekam di buku. kegiatan seperti ini jadi penunjang dan sangat bermanfaat. Bisa membuka wawasan sejarah dan dapat diajarkan kepada anak-anak. Apa yang kita dapat di kampus, akan melengkapi memaparkan materi kepada anak-anak. Sehingga mengajar sejarah tidak hanya sekedar menyampaikan fakta apa yang ditulis di buku, tetapi juga menciptakan kecintaan terhadap kebesaran bangsa," kata Ika.
Nugroho Wibisono, anggota komunitas Taksak, mengatakan, kegiatan ini sendiri digelar berdasarkan keprihatinan bahwa bangsa kita memiliki aksara yang digunakan di masa itu, tetapi masyarakat yang menguasai aksara itu tidak banyak.
Baca: Sebuah Minibus Terguling di Jalan Magelang, Sejumlah Penumpang Dilaporkan Terluka
Sementara generasi muda cenderung menyukai budaya barat, dan kurang melestarikan budaya bangsa sendiri.
"Aksara ini yang mungkin benar-benar ahli itu paling 100 orang, sedikit sekali. Disinilah menjadi dasar keprihatinan, kita sendiri sebagai bangsa indonesia, bangsa yang katanya berbudaya tetapi tidak melestarikan aksara itu. Anak-anak sekarang lebih suka mempelajari budaya barat, tidak budaya kita sendiri, padahal kalau kita pelajari budaya kita ini sangat isitimewa," kata Nugroho.
Nugroho sendiri menginginkan dengan adanya kegiatan ini setidaknya dapat melestarikan aksara kawi, meskipun dengan bahasa kurang tertata, karena sulit mempelajarinya.
"Para peserta juga mau menularkan kepada warga yang lain, sehingga aksara ini tetap dapat lestar," katanya.
Taksaka sendiri adalah Komunitas Pecinta Aksara Kawi yang berbasis di Magelang.
Beranggotakan kurang lebih 50 orang dan berdiri pada tahun 2016 silam.
Taksaka secara aktif melaksanakan kegiatan pembelajaran sejarah kepada masyarakat seperti jelajah sejarah, bedah prasasti dan belajar aksara jawa kuna.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/belajar-aksara-kawi-membaca-prasasti-menelisik-asal-usul-kota-magelang.jpg)