Bantul
Pemuda Asal Bantul Olah Limbah Kayu Laut Jadi Rupiah
Kerajinan berbahan dasar limbah kayu laut yang ramah lingkungan ini telah menembus pasar Eropa dan Inggris.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Awal tahun 2015, Dwi Ratmanto bertemu dengan Jorge, seorang pengusaha eksportir asal negara Jerman.
Mereka bertemu di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.
Jorge, seperti yang diceritakan Dwi, saat itu sedang mencari kerajinan ramah lingkungan untuk bisa diekspor ke mancanegara.
Gayung bersambut.
Baca: 8 Langkah Mudah Quick and Fresh Make Up Look dari Emina Cosmetics
Dwi bersama pemuda Dusun Baros saat itu memang sedang gencar dalam upaya pengelolaan mangrove di pesisir pantai.
"Di sekitar Mangrove, saat itu banyak sekali sampah yang mengganggu. Kebetulan kita mulai bertahap untuk mengolah sampah. Bukan hanya limbah kayu laut tetapi sampah Plastik juga," kata Dwi, mengawali cerita.
Pertemuan dengan Jorge, kala itu, merupakan langkah awal tercetusnya gagasan besar untuk kelestarian bumi dan lingkungan.
Jorge mengajari Dwi Ratmanto bersama pemuda Kampung Baros untuk membuat kerajinan.
Bahan dasar yang digunakan adalah bagaimana memanfaatkan limbah kayu laut atau drifwood bernilai ekonomis.
Limbah kayu ini biasa ditemukan tergeletak di sepanjang pesisir pantai.
"Biasanya, limbah kayu ini oleh warga, kan, digunakan untuk kayu bakar. Pak Jorge ke sini bawa sampel dan bilang kepada kita. Bisa nggak buat kayak gini," ujar Dwi menirukan ucapan Jorge saat itu.
Baca: Aplikasikan Alat Pengolah Sampah Tanpa Pilah, Warga Tegalrejo Sulap Sampah Jadi Batako
Awalnya Dwi dan para pemuda mengaku sempat ragu.
Tetapi Jorge meyakinkan dengan membawa sampel dan peralatan.
Bahkan ia juga langsung mempraktekan cara pembuatan kerajinan itu kepada masyarakat.
"Kita waktu itu langsung dilatih," terangnya pada Tribunjogja.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemuda-asal-bantul-olahlimbah-kayu-laut-jadi-rupiah.jpg)