Gwalia, Kisah Kota yang Ditinggalkan Para Penduduknya dalam Semalam
Gwalia adalah sebuah kota tambang emas yang sangat ramai di tahuan 1960-an terletak sekitar 800 kilometer di sebelah timur Kota Perth
"Mereka orang baik. Orang Aborigin biasa membawakan kambing liar. Mereka suka makan kambing liar," katanya.
Memulihkan kota hantu Hari ini kondisi Gwalia merupakan gambaran dari kondisi yang pernah ada.
Bangunan-bangunan kosong menjadi saksi dahulu kota ini pernah ramai. Sejak berdiri pada akhir abad ke-19, banyak penduduk Gwali terjebak di sana dengan upah rendah dan pekerjaan sulit. Mereka hampir tak mungkin pindah ke tempat lain.
"Begitu berada di sini, Anda kehilangan kontak dengan dunia luar," begitu isi surat seorang warga yang pernah tinggal di sana.
"Semua tempat tinggal ini mereka tinggalkan tergesa-gesa, jadi sejarahnya ada di sana," kata Donna Reid, seorang warga yang tinggal di Gwalia pada 1970-an.
Donna dan suaminya Don Reid tinggal di Hoover House yang ingin mereka jaga kelestariannya.
Hoover House dirancang oleh manajer tambang, Herbert Hoover, yang pernah menjadi Presiden Amerika Serikat.
Ketika para petugas datang untuk menghancurkan rumah-rumah seng pekerja tambang di Gwalia, Donna berhasil meyakinkan pemerintah untuk menghentikannya.
"Kami datang ke sini pada saat yang tepat untuk menghentikan buldoser," ucapnya.
Selama bertahun-tahun, para sukarelawan dan sejumlah donatur berhasil mendirikan museum di kota itu, tepat menghadap ke pertambangan.
Rumah mewah tempat tinggal manajer tambang kini menjadi penginapan Hoover House. Sementara rumah-rumah pekerja dipindahkan ke bagian tengah kota.
Pekan lalu, ratusan turis dan bekas penduduk Gwalia, datang kembali ke kota itu 55 tahun setelah ditinggalkan. Untuk pertama kalinya, State Hotel dibuka kembali untuk umum.
Hotel ini merupakan hotel pertama milik pemerintah di Australia Barat yang dibangun 1903.
Upaya pelestarian kota ini mendapatkan bantuan dana 3,2 juta dollar dari pemerintah dan pihak swasta.
Ada pula pameran foto yang mengabadikan kisah penduduk Gwalia oleh wartawan Kate Ferguson.
Selama lima dekade terakhir, hanya sejumlah kecil penduduk tinggal yang bertahan di pinggiran kota.
Kini, sebagian besar tempat itu telah menjadi objek wisata. Pengunjung kembali berdatangan, sehingga kota kecil ini pun terhindar dari kemusnahan ditelan waktu.
"Saya selalu membayangkan Gwalia sebagai pusat wisata dan bangkit kembali dengan cara yang berbeda," kata Donna Reid.
--
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Kota di Australia yang Ditinggalkan Penduduknya dalam Semalam"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kisah-kota-gwalia-yang-ditinggalkan-penduduknya-dalam-semalam_1.jpg)