Sains

Asteroid Antarbintang Ini Sempat Dikira Kapal Alien. Ini Penjelasan Para Ilmuwan

Salah satu yang mendapat perhatian adalah pendapat beberapa astronom yang menyebut Oumuamua adalah kapal alien.

Editor: Ari Nugroho
via Kompas.com
Oumuamua adalah asteroid antarbintang pertama yang mengunjungi Tata Surya. Benda unik ini ditemukan pada 18 Oktober 2017 oleh teleskop Pan-STARRS 1 di Hawai. Observasi selanjutnya dari Teleskop Very Large ESO di Cile dan observatorium lainnya di seluruh dunia menunjukkan bahwa dia melakukan perjalanan melalui ruang angkasa selama jutaan tahun sebelum bertemu dengan Tata Suya kita. Oumuamua merupakan benda metalik atau berbatu merah tua yang panjangnya mencapai 400 meter, dan tidak seperti apa yang biasanya ditemukan di Tata Surya. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sejak terlihat pada Oktober 2017 lalu, banyak analisis yang dilakukan pada Asteroid Oumuamua.

Namun, tetap saja, asteroid tersebut masih menyimpan misteri hingga kini.

Pasalnya, tak banyak yang diketahui tentang objek dari galaksi lain itu. 

Salah satu yang mendapat perhatian adalah pendapat beberapa astronom yang menyebut Oumuamua adalah kapal alien.

Pendapat ini muncul karena perilaku aneh dari asteroid tersebut sulit dijelaskan.

Meski begitu, para astronom lain membantah pendapat itu.

"Melompat pada kesimpulan bahwa asteroid ini milik alien, saya pikir kita belum menemukan bukti untuk itu," katta Amaya Moro-Martin, astronom Space Telescope Science Institute, Baltimore dikutip dari Science News, Rabu (27/02/2019).

Baca: New York Heboh Ledakan Cahaya Biru di Langit, Netizen Sebut Alien Mendarat hingga Lahirnya Paus Baru

"Ada penjelasanan alami lainnya yang bisa dieksplorasi (untuk memahami perilaku Oumuamua)," imbuhnya.

Setidaknya ada tiga penjelasan yang mungkin menguraikan perilaku asteroid misterius itu.

1. Fraktal Es yang Mengembang

Salah satu hal yang membuat astronom Shmuel Bialy dan Avi Loeb dari Universitas Harvard percaya Oumuamua adalah kapal alien adalah kecepatan dari asteorid tersebut.

Mereka berpkir bahwa ada layar matahari di asteroid tersebut yang membuatnya bisa menggunakan dorongan cahaya bintang untuk bergerak antar-galaksi.

Namun, menurut Moro-Martin, layar matahari bukan satu-satunya cara untuk memanfaatkan tekanan radiasi ini.

Struktur halus dan keropos yang menyerupai fraktal, pola geometris yang berulang pada skala yang lebih kecil dan lebih besar, juga dapat didorong oleh cahaya, katanya.

"Secara fisik itu akan menjadi ide yang sama, hanya saja geometrinya akan berbeda," ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved