Putri Indonesia 2019

Motif Batik Truntum Khas Yogyakarta Bakal Mejeng di Grand Final Puteri Indonesia 2019

Motif Batik Truntum Khas Yogyakarta Bakal Mejeng di Grand Final Puteri Indonesia 2019

Motif Batik Truntum Khas Yogyakarta Bakal Mejeng di Grand Final Puteri Indonesia 2019
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Finalis Puteri Indonesia 2019 wakil DIY, Anja Litani Ariella, berfoto bersama desainer jelang malam penobatan Grand Final Puteri Indonesia di Atrium Lippo Plaza, Yogyakarta, Rabu (20/2/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Motif batik truntum khas Daerah Istimewa Yogyakarta bakal dikenakan Anja Litani Ariella, finalis Puteri Indonesia 2019 asal Kota Gudeg, Maret 2019 mendatang.

Busana Evening Grown yang kental akan nuansa batik Yogyakarta bermotif truntum tersebut, merupakan rancangan desainer Adikarang Samawi dan Okan Sukardi.

"Gaun ini kental dengan nuansa batik Yogyakarta yakni motif Truntum. Kami menamai busana rancangan kami Truntum Ing Anindyaswari. Artinya kesempurnaan dan kejujuran, cantik bagai Truntum yang sedang mekar," kata perancang busana Batik Yogyakarta Truntum, Adikarang Samawi saat pagelaran busana Goes to Grand Final Puteri Indonesia 2019 di main hall Lippo Plaza Yogyakarta, Rabu (20/2/2019).

Dijelaskannya, dalam proses perancangan busana berbentuk slim fit mermaid dress berwarna dominan merah tersebut ia turut dibantu Okan Sukardi.

Baca: Anja Litani Ariella, Termotivasi Jejak Senior di Ajang Puteri Indonesia

Pemilihan merah bukannya tanpa alasan lantaran warna ini identik dengan percaya diri, berani menghadapi situasi dan tantangan tanpa meninggalkan unsur anggun dan elegan.

"Harapan kami dengan mengenakan busana ini, Anja lebih percaya diri menghadapi tantangan dalam grand final nanti. Bahkan harapan kami dia dapat melenggang hingga ke ajang internasional, Miss Universe," kata dia.

Okan Sukardi menambahkan dipilihnya motif Batik Truntum ini pertama kali diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana yang merupakan Permaisuri Sunan Paku Buwono III.

"Batik motif ini bermakna cinta yang tumbuh kembali. Kami menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi dan semakin lama semakin terasa subur berkembang atau tumaruntum," tambah dia.

Tak hanya Evening Grown, Anja juga akan mengenakan tradisional kostum The Queen Angel from Mataram karya desainer Theo.

Baca: Mahasiswa KKN Undip Ulik Potensi Kelurahan Gedawang Melalui Master Plan

Corak batik yang digunakan adalah batik parang yang juga salah satu identitas warga Yogyakarta. Theo berharap karya yang dipakai putri Indonesia dalam peragaan busana nasional budaya Yogyakarta sebagai salah satu budaya Indonesia akan semakin dikenal di mancanegara.

"Saya berharap desainer Yogyakarta karyanya diakui di fashion carnival sebagai salah satu icon budaya dan pariwisata baik di Yogyakarta maupun di kota lainnya," imbuhnya.

Sementara itu sang finalis Putri Indonesia yang mewakili DIY, Anja Litani Ariella mengaku sangat optimistis dengan gaun-gaun yang akan dikenakannya pada malam grand final nanti.

"Tentunya dengan gaun-gaun yang sudah disiapkan oleh tim membuat saya makin optimistis dalam ajang nanti," kata mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada tersebut.(tribunjogja)

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved