Pemkab Bantul Ajak Keluarga dari Ekonomi Mampu untuk Naik Kelas
Angka kemiskinan di Bantul saat ini tercatat berada di angka 14 persen
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Asisten III bidang Sumberdaya dan Kesra, Totok Sudarto, mengajak kepada keluarga penerima manfaat (KPM) yang merasa ekonominya sudah mampu supaya naik kelas.
Tidak lagi menggantungkan hidup dari bantuan program keluarga harapan (PKH).
"Kalau dinilai sudah mampu maka (keluarga penerima manfaat) diimbau untuk naik kelas. Dari penerima PKH menjadi bukan penerima PKH. Artinya sudah lepas dari garis kemiskinan," kata Totok, ketika berbicara tentang angka kemiskinan di Kabupaten Bantul yang dinilai masih cukup tinggi.
Menurut dia, angka kemiskinan di Bantul saat ini tercatat berada di angka 14 persen. Angka tersebut dinilai Totok sangat tinggi, sehingga harus diturunkan.
Salah satu upaya penurunan angka kemiskinan adalah dengan cara validasi data terpadu melalui perbaruan data by name by adress.
"Keinginan dari kita semua bahwa data kemiskinan betul-betul akurat. Apa betul Bantul 14 persen kemiskinan? Kok akeh banget. Kita akan turunkan terus," ujar dia.
Menurut Totok, pihaknya sangat mengapresiasi langkah sebagian masyarakat Bantul yang dengan suka rela mau mengundurkan diri dari penerima manfaat PKH.
Mereka mundur, karena merasa keluarganya sudah cukup mampu dan tidak berhak menerima bantuan.
Totok mengibaratkan, fenomena ini sebagai virus baik yang menular.
"Kalau nggak salah diawali dari Imogiri oleh Bu Saenah, penjual pentol tusuk. Itu yang pertama kali memulai, dia yang awalnya penerima PKH, suka rela mengembalikan. Kemudian virus itu sangat bagus. Akhirnya yang lain mengikuti. Mengembalian PKH itu," terang dia.
Bahkan di Bantul, masih menurut Totok, ada fenomena unik di salah satu desa di Kecamatan Pandak tepatnya di dekat pasar Jodog.
Ada satu pedusunan yang warganya sama-sama mengundurkan diri dari program keluarga harapan.
Langkah ini bermula dari adanya himbauan kepala Dukuh dan tokoh masyarakat setempat.
"Sekiranya sudah mampu tapi masih menerima PKH maka akan didoakan oleh seluruh warga kampung menjadi warga tidak mampu. Akhirnya, mulai dari Jodog kemudian sudah banyak (warga yang mengundurkan dari PKH)," tutur Totok.
Salah satu keluarga yang mengundurkan diri dari PKH adalah Sadad Zubaidah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-bantul_20180731_185700.jpg)