Yogyakarta

Studi Kelayakan SPAM Kamijoro Segera Dilaksanakan

Studi kelayakan untuk sistem penyaluran air minum (SPAM) Kamijoro akan segera dilaksanakan secepatnya.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
Tribun Jogja/ Amalia Nurul Fanthonaty
Pengunjung menikmati suasana taman Bendung Kamijoro, Kamis (7/2/2019) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Studi kelayakan untuk sistem penyaluran air minum (SPAM) Kamijoro akan segera dilaksanakan secepatnya.

Hal ini akan difasilitasi Kementrian Keuangan dan menjadi salah satu tahapan untuk kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral (DPUESDM) DIY, Hananto menjelaskan, pihaknya sudah bertemu dengan pihak Kemenkeu pasca-premarket sounding.

Dalam pertemuan tersebut, kata dia, studi kelayakan akan dilaksanakan secepatnya.

“Satu atau dua bulan ini sudah dilaksanakan. Mereka (Kemenkeu) sangat konsen untuk KPBU Kamijoro ini,” ujar Hananto kepada Tribun Jogja, Minggu (10/2/2019).

Baca: Taman Bendung Kamijoro jadi Alternatif Wisata Baru di Pinggir Kali Progo

Studi kelayakan ini, ujarnya, untuk mengetahui betul-betul secara ekonomi layak, seperti kesediaan PDAM menampung produk seperti apa setelah itu premarket sounding.

Hananto menyebutkan, perlu waktu cukup lama untuk penyiapan PDAB perusahaan yang bekerjasama dengan swasta.

Adapun anggaran untuk pembangunan saluran air minum bagi bandara NYIA dan Bantul ini diperkirakan menelan duit Rp 450 miliar.

Hanya, soal rincian anggaran ini akan lebih pasti setelah dilakukan studi kelayakan dengan bantuan Kementrian Keuangan.

“Baru tahu sudah pasti betul sistemnya mau seperti apa, kalau sekarang baru studi pendahuluhan dan baru perkiraan belum tahu panjang pipa seperti itu belum diukur secara rinci,” urainya.

Jika sudah ada studi kelayakan, maka sudah betul-betul dihitung jarak antara pelanggan dan juga hal teknis lainnya.

Baca: SPAM Kamijoro Akan Suplai Air Minum Bandara NYIA

Dia menyebutkan, potensi air tersebut mencapai 680 liter per detik, namun hanya dibangun untuk 500 liter per detik.

Pihaknya pun akan melihat tarif per meter kubiknya untuk penawaran pada pihak swasta.

Jika menggunakan pengelolaan Kartamantul, tarifnya sekitar Rp 2 ribu permeter kubiknya.

Sehingga, masih ada keuntungan yang menjanjikan untuk pihak swasta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved