Kota Yogya

Cek Tingkat Keberhasilan Teknologi Wolbachia, WMP Lakukan Studi AWED

Studi AWED telah dijalankan sejak 2016 dengan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah kecamatan di Kota Yogya.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
AFP PHOTO/MARVIN RECINOS
Nyamuk Aedes Aegypti. 

TRIBUNJOGJA.COM - Peningkatan kewaspadaan, pencegahan, serta penanggulangan DBD penting untuk menekan angka kejadian kasus DBD.

Atas dasar itu, World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta melakukan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eleminasi Dengue (AWED).

Dari informasi yang dihimppun Tribunjogja.com, studi AWED telah dijalankan sejak 2016 dengan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah kecamatan di Kota Yogya dan penyebaran telah selesai dilakukan pada 2017.

Dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan teknologi Wolbachia dalam mencegah penularan DBD di Kota Yogya.

"Dari hasil pemantauan yang dilakukan diketahui saat ini lebih dari 90 % nyamuk Aedes Aegypti di Kota Yogya sudah ber-Wolbachia," ungkap Peneliti Utama WMP, Prof Adi Utarini, Kamis (7/2/2019) di Kantor Humas UGM.

Selanjutnya, WMP Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Yogya melakukan perekrutan pasien demam yang berobat di 18 puskesmas/ puskesmas pembantu di Kota Yogya dan 1 puskesmas di Kabupaten Bantul.

Studi dibagi menjadi dua wilayah yakni wilayah dengan intervensi nyamuk ber-Wolbachia dan wilayah yang tidak diintervensi nyamuk ber-Wolbachia.

Dengan pembagian wilayah ini akan diperoleh perbandingan kasus DBD di wilayah pelepasan Wolbachia.

Setiap pasien demam yang datang ke puskesmas akan ditanya kesediaannya mengikuti studi ini.

Sejak penelitian dimulai pada 2018 lalu hingga akhir Januari 2019 ini sudah ada 3.400 pasien yang berpartisipasi menjadi responden penelitian.

"Hasil studi baru bisa diketahui pada tahun 2020 mendatang, tetapi setiap perkembangan yang ada akan selalu kita sampaikan ke dinas kesehatan," paparnya.

Mengingat besarnya ancaman DBD, Adi Utarini menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan jika mengalami demam untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

"Umumnya fatalitas terjadi karena kurang waspada sehingga terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Saat ini puskesmas di Kota Yogyakarta telah ada perangkat tes untuk diagnosis dini DBD," jelasnya.

Baca: Tekan Penyebaran Virus DBD, WMP Sebar 500 Perangkap Nyamuk di Kota Yogya

Selain itu, ia mengungkapkan di tahun 2018 kemarin pihaknya telah menyebar 500 perangkap nyamuk di beberapa titik.

Dan dari sana, terungkap data bahwa terdapat 10 nyamuk Aedes Aegypti per rumah per minggu.

Ia pun menyebut bahwa nyamuk ini ada di sepanjang tahun, namun serangannya akan lebih banyak di musim penghujan.

Musim penghujan berpotensi dalam peningkatan serangan demam berdaran dengue. Peniliti World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta Riris Andono Ahmad menyampaikan dari pemantauan WMP Yogyakarta terhadap nyamuk di Kota Yogyakarta diketahui di awal musim penghujan ini terjadi peningkatan yang sangat nyata dari populasi Aedes Aegypti.

Populasi jauh lebih tinggi di bulan yang sama di 2017 dan 2018. Namun hampir sama dengan data di 2016 saat terjadi puncak kasus DBD.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved