Seni dan Budaya
Lukisan Ini Kisahkan Penyamaran Pangeran Diponegoro Saat Salat Jumat di Masjid Pajimatan Imogiri
Berkisah tentang peristiwa saat Pangeran Diponegoro salat Jumat di Masjid Pajimatan Imogiri. Saat itu ia menyamar jadi orang biasa
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
“Sebagai metafora dengan menempatkan pohon-pohon besar serta buah apel di latar depan adegan di Masjid Pajimatan, ini mengingatkan Diponegoro sedang bercengkerama dengan rakyat, dalam cengkeraman kaum penjajah,” lanjut Deddy.
Karena itulah Deddy PAW memberi judul karya lukisnya “Cengkerama, di Bawah Cengkeraman Penjajah”. Lukisan itu berukuran 100x150 cm, menggunakan cat minyak yang dikerjakan selama 1,5 bulan terakhir di galerinya di Borobudur.
Pangeran Diponegoro Tak Mau Dua Kali Seberangi Sungai Bogowonto, Alasannya Masih Jadi Misteri
“Persiapannya, sebagaimana yang lain cukup lama, sejak Agustus tahun lalu. Namun proses menuju penggarapan juga cukup menyita, mesti riset, observasi, mereka ulang adegan menggunakan model, dan membuat desain dasarnya,” beber mantan editor seni di media ternama di Jakarta ini.
Ia mengaku termasuk pelukis yang memanfaatkan teknologi komputer untuk berkarya. “Ide bisa dituangkan bermacam-macam, bisa disimulasikan mudah, dan efisien dalam penggarapannya di kanvas,” ujar alumni Prodi Lukis Institut Kesenian Jakarta ini.
“Saya pun berkali-kali berdiskusi dengan kurator, dan narasumber Ki Roni Sodewo, untuk mendapatkan gambaran dramanya,” tambahnya. “Saya selesaikan karya itu 1,5 bulan karena tidak bisa setiap hari saya kerjakan,” kata pemilik Tuksongo Visual Art House ini.
Secara basis aliran lukisnya, karya Deddy PAW ini realis. Namun ia menyebutnya surealis, dengan menghadirkan tidak semata adegan berdasar teks sejarah, tapi ada simbolisasi lain, menggunakan metafora buah apel.
Benarkah Peta Klasik Ini Penyebab Pangeran Diponegoro Tertangkap Belanda?
“Secara teks memang kita harus patuh pada visualisasi adegan yang diinginkan, tapi kita juga punya kebebasan menuangkan ciri khas sebagai makna dan pesan simbolik yang kita inginkan,” kata pria kelahiran Magelang, 18 Oktober 1963 ini.
“Itu sudah kita diskusikan dengan Mikke Susanto sebagai kurator, dan ia tidak menyangka soal penggambaran simbolik buah apel itu,” lanjutnya. Apa kesulitan proses karya lukisan ini?
Terdiam sejenak, Deddy PAW mengaku, sebetulnya tidak ada kesulitan yang signifikan. Ia hanya perlu memahami lebih dalam kisah yang diceritakan dalam pupuh XIV bagian 71 dan 72 dari Babad Diponegoro.
“Ini butuh kecerdasan seorang seniman untuk memahami konteks dan drama yang diceritakan dalam pupuh itu. Pelukis senior, belum tentu karyanya lebih baik dari yang lebih muda sekalipun, karena ini soal tafsir dan cara memvisualkan,” jelasnya.
Soal lain, terkait proses karya ini, Deddy PAW harus merelakan dirinya membatalkan sejumlah agenda seni yang harusnya ia gelar dan ikuti di dalam maupun luar negeri.
“Ini bagi saya salah satu proses berkesenian yang sangat mengesankan,” tandas Deddy PAW.(Tribunjogja.com/xna)