Seni dan Budaya
Lukisan Ini Kisahkan Penyamaran Pangeran Diponegoro Saat Salat Jumat di Masjid Pajimatan Imogiri
Berkisah tentang peristiwa saat Pangeran Diponegoro salat Jumat di Masjid Pajimatan Imogiri. Saat itu ia menyamar jadi orang biasa
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro akan dibuka lusa, Jumat (1/2/2019) malam. Ini pameran lukisan bersejarah, karena pertama kalinya teks-teks Babad Diponegoro divisualisasikan dalam karya lukis.
Hingga Selasa (29/1/2019) malam, sebagian besar dari 50 karya lukis yang akan dipamerkan sudah dipajang di Jogja Gallery, Pekapalan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.
Salah satu yang sudah dipajang dan sangat menarik adalah lukisan karya seniman Deddy PAW dari Borobudur, Magelang. Ia kebagian adegan ke-4 yang telah dipilih curator, dari teks Babad Diponegoro.
Kisah Dua Jam dan Dua Abdi Dalem Masjid Pajimatan Imogiri
Berkisah tentang peristiwa saat Pangeran Diponegoro salat Jumat di Masjid Pajimatan Imogiri. Saat itu ia menyamar jadi orang biasa, mengaku namanya Abdulrohim. Tapi masyarakat akhirnya tahu siapa dia, dan berkumpullah orang-orang.
Pangeran Diponegoro pun sampai harus menginap di masjid yang sampai hari ini masih ada bangunannya. Hari berikutnya diceritakan Diponegoro melanjutkan perjalanan ke pesisir selatan.
Deddy PAW yang dikenal sebagai pelukis spesialis objek apel, menuangkan drama sebabak itu dalam kanvas secara epik dan apik. Ia mengambil sudut pandang (perpsektif) dari jauh, dari luar masjid sisi pojok kanan depan.
Tradisi Nguras Enceh Dihelat di Makam Raja-raja Pajimatan Imogiri
Diponegoro yang mengenakan surjan warna hijau, dikerubuti banyak warga di teras pertama masjid. Puluhan orang terlihat takzim takjub mendengarkan Diponegoro yang sedang memberi wejangan.
Bangunan Masjid Pajimatan dilukis secara indah dan cukup detil, sesuai kondisi arsitektur yang ada. Selain kerumunan warga yang duduk melingkar di halaman masjid, juga diperlihatkan orang sedang membasuh kaki di kolam bawah undak-undakan.
“Dua kali saya observasi ke Masjid Pajimatan, untuk mendapatkan detil arsitektur dan suasananya. Saya menyelami, merasakan atmosfer pertemuan yang berlangsung ratusan tahun lalu itu,” kata Deddy PAW kepada Tribunjogja.com, Selasa malam.
Pengabdian Terakhir, Lukisan Babad Diponegoro Karya Gus Black yang Wah dan Sarat Makna
Kerumunan warga yang mendengarkan wejangan Diponegoro itu jumlahnya 63 orang, dilukiskan dengan komposisi yang sempurna. Gestur dan pemosisian masing-masing figur mengarah ke Diponegoro sebagai titik pusat adegan.
Tentang mengapa harus 63 orang, Deddy PAW sembari tersenyum menyebutnya jika angka 6 dan 3 ditambahkan menjadi 9. “Itu symbol keberuntungan,” tukasnya di Jogja Gallery, di sela-sela persiapan penataan karya yang akan dipamerkan.
Secara komposisi gambar, sosok Diponegoro memang menjadi pusat dari drama. Ia ada di tengah, semua orang memusatkan perhatian kepadanya. Begitu juga penempatan batang pohon dan pencahayaan lukisan benar-benar fokus ke satu sosok.
Video Masjid Langgar Agung Magelang, Menyusuri Jejak Dakwah Pangeran Diponegoro
Nah, sesuai spesialisasinya, Deddy PAW yang karya-karya hebatnya sudah melanglangbuana dan jadi koleksi top di berbagai negara, ia memasukkan buah apel dalam karya lukisnya ini.
Mengapa harus apel? “Itu buah apel Malang. Saya sengaja menempatkannya di situ sebagai metafora dari penjajah. Buah apel dibawa kaum kolonialis lebih dari 100 tahun lalu,” jelasnya.
Buah apel itu digambarkan sangat hidup, benar-benar menyerupai foto.