Kerugian Materiil Akibat Tebing Talut yang Longsor di Srimartani Capai Rp100 Juta
Akibat musibah itu, Sholikin mengaku mengalami kerugian hingga mencapai Rp 100 juta.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Talut penahan tebing di depan rumah Sholikin, warga Mojosari RT 02, Srimartani, Piyungan Bantul longsor pada Selasa (23/1/2019) malam.
Akibat musibah itu, Sholikin mengaku mengalami kerugian hingga mencapai Rp 100 juta.
"Estimasi kerugian, beli material bangunan Rp80 juta untuk pemasangan Rp20 juta. Total kerugian sekitar Rp100 juta," ujar Sholikin, saat ditemui dirumahnya, Rabu (23/1/2019).
Talut penahanan tebing yang longsor itu, kata Sholikin, sebenarnya merupakan talut yang baru selesai dibangun pada bulan Ramadan tahun 2018 lalu.
Namun, karena guyuran hujan dengan intensitas cukup lama, talut tersebut akhirnya longsor.
Alhasil, rumah Sholikin dan anaknya, Ambar Fadholi terancam ikut terbawa longsoran.
Mengingat jarak kedua rumah tersebut sangat dekat, hanya berjarak hitungan meter saja.
Diketahui sebelumnya, tebing talut yang berada tepat di depan rumah Sholikin itu ambruk pada Selasa malam sekitar pukul 19.00 WIB.
"Saat itu hujan deras. Tiba-tiba seperti ada gempa, ternyata tebing talud depan rumah ambruk," kata Sholikin.
Di dalam rumah, Sholikin tinggal bersama sang istri, Sagiyem (45) dan ketiga anaknya, Miratin Nangimah (20), Siti Nur Azizah (18) serta Umar Said (15).
Ketika tebing longsor terjadi, ia mengaku kaget dan langsung bergegas menyelamatkan diri bersama keluarga ke rumah kerabat yang dirasa lebih aman.
Pantauan Tribunjogja.com, tebing talut yang longsor memiliki ketinggian sekira 10 meter dengan lebar area terdampak longsoran sekitar 12 meter.
Selain ambruk, longsoran itu juga mengakibatkan sejumlah bagian rumah Sholikin mengalami keretakan. (*)