Awan Misterius Morning Glory hanya Terjadi di Australia, NASA pun Belum Tahu Penyebabnya

Awan ini berbentuk asap cerutu yang panjangnya bisa mencapai 1.000 kilometer. Awan ini dikenal dengan nama "morning glory".

Tayang:
Editor: iwanoganapriansyah
IST/NASA
Awan morning glory hanya bisa dilihat di sebuah kota yang terletak di sekitar teluk Carpentaria, barat laut Queensland, Australia, hanya pada bulan September sampai November. 

TRIBUNJOGJA.COM - Australia adalah rumah bagi fenomena meteorologi paling langka di dunia, di antaranya pembentukan awan yang dikenal dengan nama "morning glory".

Awan ini berbentuk asap cerutu yang panjangnya bisa mencapai 1.000 kilometer.

Uniknya, awan morning glory hanya bisa dilihat di sebuah kota yang terletak di sekitar teluk Carpentaria, barat laut Queensland, hanya pada bulan September sampai November.

Pasien Wanita yang Koma 10 Tahun Melahirkan Bayi, Polisi Curigai Terjadi Pelecehan Seksual

Kalau Anda mengira ini adalah lubang transportasi alien, mungkin pikiran itu harus dibuang jauh.

Pasalnya, ini adalah fenomena alami yang masih belum jelas diketahui bagaimana terciptanya.

"Apa yang menyebabkan awan ini panjang dan aneh belum ada yang bisa memastikan," tulis NASA di situs APOD pada 2009.

Sejauh ini yang baru diketahui adalah kondisi cuaca di sana.

Bentuk awan menggulung yang ikonik itu mungkin disebabkan penurunan suhu, lonjakan tekanan, dan angin laut yang kencang.

Mengenal Sultan Muhammad V: Minta Gaji Dipangkas hingga Persunting Mantan Miss Moscow

Disebabkan oleh ketiga hal itu, udara di sekitar tepian awan depan bergerak dengan cepat sementara udara di bagian belakang menurun sehingga menggulung awan jadi berbentuk silinder yang rapi.

Disebabkan oleh ketiga hal itu, udara di sekitar tepian awan depan bergerak dengan cepat sementara udara di bagian belakang menurun sehingga menggulung awan jadi berbentuk silinder yang rapi.

Dilaporkan Science Alert, Senin (31/12/2018), sebanyak 10 awan seperti ini bisa melintasi langit di satu waktu dan memanjang sekitar 2 kilometer di atas tanah.

"Awan berbentuk tabung yang panjang, horisontal, dan bersikulasi mungkin terbentuk saat udara yang mengalir itu lembab dan dingin, kemudian bertemu lapisan inversi, lapisan atmosfer di mana suhu udara meningkat secara atipikal dengan ketinggian," tulis NASA.

"Awan tabung dan udara di sekitarnya dapat menyebabkan turbulensi berbahaya bagi pesawat," sambung NASA.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved