Menguak Misteri Candi Penataran
Terhindar dari Petaka Kelud, Raja Srengga Dirikan Candi Palah
Candi Palah atau Candi Penataran di Blitar memiliki keunikan dan meninggalkan misteri besar dari segi teknik arsitektural bangunan
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
“Namun kita tidak tahu persis penambahan mana yang dilakukan sebagai pengembangan komplek bangunan suci. Termasuk komponen arsitektural dan komponen ikonografis masa Singhasari,” lanjutnya.
Petunjuk campur tangan Kerajaan Singhasari teridentifikasi dari kronogram di lapik arca dwarapala di pintu utama masuk komplek candi. Posisi dwarapala ini cukup jauh dari candi induk.
“Tapi detil bangunan dulu pengembangan masa Singhasari tetap tidak diketahui pasti,” kata Dwi Cahyono. Ia hanya bisa mengidentifikasi umbul atau patirtan di bagian belakang komplek candi dibangun masa Majapahit.
“Kronogram di patirtan belakang angka tahun masa Majapahit akhir. Jadi masa Singhasari, patirtan belakang itu belum ada. Patirtan pertama ada di dekat sungai,” lanjutnya.
Jejak lain yang bisa mengurai kronologi pembangunan dan perluasan bisa dilihat dari tiga gapura yang kini sudah runtuh. Arca dwarapala masa Majapahit diletakkan di dekat bekas gapura kedua di tengah bangunan.
Mbah Sayem, Legenda dari Kerajaan Australomelanesid Pacitan
Terkait penyebutan Bhatara Palah dan siapa yang dimaksud, Dwi Cahyono menafsir itu adalah penyebutan untuk arwah leluhur yang menyatu dengan dewata di Palah. Palah ini menurut tafsir Dwi Cahyono sebutan untuk sebuah bukit, anak Gunung Kelud.
Nama kuna Gunung Kelud menurut Dwi Cahyono dan catatan lawas adalah Redi Kamput. Tentu jika Candi Palah ini dimaksudkan untuk pemujaan dewata di puncak Kelud, akan menggunakan istilah kuna Kamput ini, bukan Palah.
Bukit Palah atau dalam istilah lain juga disebut Rabut Palah, pernah disinggung pengelana Bujangga Manik. Dalam susatra lebih tua, yaitu dalam Kidung Panji Marga Semara, juga disebut nama Rabut Palah.
Mengenal Sabuk Cincin Api, Si Pembangkit Gempa, Gunung Api dan Tsunami di Indonesia
Dengan demikian Kelud dan Palah ini objek yang berbeda. Kelud sebagai pusat, dan Palah adalah anaknya. “Dugaan saya, melihat kedekatannya, Rabut Palah itu bukit di mana sekarang terdapat situs Candi Gambar Wetan. Di seberang Kali Bladak, di perkebunan menuju arah Kelud,” jelas Cahyono.
“Nah, orientasi Candi Palah, kiblatnya mengarah ke Rabut Palah ini. Jadi yang dimaksud Bhatara Palah adalah arwah nenek moyang yang bersemayam di bukit Palah. Sedangkan, dewata yang bersemayam di Kelud, disebut Sang Hyang Acapalati,” lanjutnya.
“Dewa yang tertinggi inilah Siwa, atau Acapalati atau Akcaya saila. Siwa juga disebut dewa gunung. Siwa itu penghancur, yang kemudian diidentikkan dengan letusan Kelud yang membawa kehancuran,” kata alumni pascasarjana UI ini.(Tribunjogja.com/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/candi-palah-atau-candi-penataran_6.jpg)