Menguak Misteri Candi Penataran

Terhindar dari Petaka Kelud, Raja Srengga Dirikan Candi Palah

Candi Palah atau Candi Penataran di Blitar memiliki keunikan dan meninggalkan misteri besar dari segi teknik arsitektural bangunan

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga
Relief - relief yang ada di Candi Palah atau Candi Penataran 

TRIBUNJOGJA.COM, BLITARCandi Palah atau Candi Penataran di Blitar memiliki keunikan dan meninggalkan misteri besar dari segi teknik arsitektural bangunan. Komplek itu dibangun dalam lapis-lapis kekuasaan yang berbeda.

Pertama, bangunan pemujaan yang sekarang jadi candi induk, dibangun Raja Srengga di masa akhir Kerajaan Kadiri. Bukti faktual tahun pendirian disebutkan dalam kronogram dan prasasti batu besar di halaman candi, yaitu tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi.

Selanjutnya pada masa Kerajaan Singhasari, di era raja Jayanegara, kembali ada pembangunan ulang dan perluasan candi. Untuk ketiga kalinya, Candi Palah diperluas pada era Majapahit masa Raja Wikramawardhana.

Arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Malang, Dwi Cahyono, mengatakan, komplek bangunan yang sekarang berdiri tidak bisa memberi gambaran secara pasti seperti apa dulunya Candi Palah ini.

“Mungkin bangunan pertamanya yang didirikan masa Raja Srengga atau Raja Krtajaya atau Dandang Gendhis, kecil saja, dan areanya hanya di sekitar candi induk yang sekarang,” duga tokoh pelestari cagar budaya di Malang dan sekitarnya ini.

Soal siapa yang paling dominan mempengaruhi arsitektural candi, Dwi Cahyono, menyatakan komplek bangunan yang sekarang berdiri sangat kuat pengaruh masa Majapahit.

Benarkah Suku Maya Ada Kaitan dengan Candi Penataran? Simak Fakta-faktanya Berikut ini

Secara kronologis, Dwi Cahyono menjelaskan proses pembangunan komplek pemujaan kuna ini. Berdasar Prasasti Palah, bangunan pertama didirikan atas perintah Raja Srengga dari Kadiri.

Dalam prasasti ini, dsebutkan sebuah bangunan suci di Wanua Palah. Wanua atau Desa Palah ini sebelumnya ditetapkan sebagai tanah perdikan atau tanah sima oleh sang raja.

Sebagian hasil pengumpulan pajak warga digunakan untuk pengelolaan kegiatan keagamaan di bangunan suci untuk memuja Bhatara Palah. Ini sebutan untuk dewata yang dipuja di tempat itu.

Candi Palah
Candi Palah (TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga)

Prasasti Palah yang berangka tahun 1119 Saka (1197 Masehi) menyebutkan, Raja Srengga atau Kertajaya merasa berbahagia karena empat penjuru wilayahnya terhindar dari bencana. Diduga ancaman bencana yang dimaksud adalah letusan Gunung Kelud.

Perasaan itu dituangkan dalam inskripsi Jawa Kuna yang berbunyi, “tandhan krtajayayåhya / ri bhuktiniran tan pariksirna nikang sang hyang catur lurah hinaruhåra nika”. Ia lalu memerintahkan pembangunan tempat pemujaan di Palah.

Prasasti Palah ditulis Mpu Amogeçwara atau disebut pula Mpu Talaluh. Setelah jadi, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat menyembah Bathara Palah. Raja Krtajaya selalu beribadah di bangunan itu.

Relief - relief yang ada di Candi Palah atau Candi Penataran
Relief - relief yang ada di Candi Palah atau Candi Penataran (TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga)

Inskripsi Palah menyebutkan, “sdangnira Çri Maharaja sanityangkên pratidina i sira paduka bhatara palah”. Artinya, “Ketika dia Sri Maharaja senantiasa setiap hari berada di tempat Bathara Palah”. Setelah Kadiri runtuh, Kerajaan Singhasari muncul.

Bangunan suci di Palah dibangun lebih besar. “Kita mendapati sumber data tekstual berupa kronogram atau angka tahun, khususnya di lapik arca dwarapala menunjuk masa Singhasari,” kata Dwi Cahyono. ‘

“Namun kita tidak tahu persis penambahan mana yang dilakukan sebagai pengembangan komplek bangunan suci. Termasuk komponen arsitektural dan komponen ikonografis masa Singhasari,” lanjutnya.

Petunjuk campur tangan Kerajaan Singhasari teridentifikasi dari kronogram di lapik arca dwarapala di pintu utama masuk komplek candi. Posisi dwarapala ini cukup jauh dari candi induk.

Relief - relief yang terdapat di Candi Palah atau Candi Penataran
Relief - relief yang terdapat di Candi Palah atau Candi Penataran (TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga)

“Tapi detil bangunan dulu pengembangan masa Singhasari tetap tidak diketahui pasti,” kata Dwi Cahyono. Ia hanya bisa mengidentifikasi umbul atau patirtan di bagian belakang komplek candi dibangun masa Majapahit.

“Kronogram di patirtan belakang angka tahun masa Majapahit akhir. Jadi masa Singhasari, patirtan belakang itu belum ada. Patirtan pertama ada di dekat sungai,” lanjutnya.

Jejak lain yang bisa mengurai kronologi pembangunan dan perluasan bisa dilihat dari tiga gapura yang kini sudah runtuh. Arca dwarapala masa Majapahit diletakkan di dekat bekas gapura kedua di tengah bangunan.

Mbah Sayem, Legenda dari Kerajaan Australomelanesid Pacitan

Terkait penyebutan Bhatara Palah dan siapa yang dimaksud, Dwi Cahyono menafsir itu adalah penyebutan untuk arwah leluhur yang menyatu dengan dewata di Palah. Palah ini menurut tafsir Dwi Cahyono sebutan untuk sebuah bukit, anak Gunung Kelud.

Nama kuna Gunung Kelud menurut Dwi Cahyono dan catatan lawas adalah Redi Kamput. Tentu jika Candi Palah ini dimaksudkan untuk pemujaan dewata di puncak Kelud, akan menggunakan istilah kuna Kamput ini, bukan Palah.

Bukit Palah atau dalam istilah lain juga disebut Rabut Palah, pernah disinggung pengelana Bujangga Manik. Dalam susatra lebih tua, yaitu dalam Kidung Panji Marga Semara, juga disebut nama Rabut Palah.

Mengenal Sabuk Cincin Api, Si Pembangkit Gempa, Gunung Api dan Tsunami di Indonesia

Dengan demikian Kelud dan Palah ini objek yang berbeda. Kelud sebagai pusat, dan Palah adalah anaknya. “Dugaan saya, melihat kedekatannya, Rabut Palah itu bukit di mana sekarang terdapat situs Candi Gambar Wetan. Di seberang Kali Bladak, di perkebunan menuju arah Kelud,” jelas Cahyono.

“Nah, orientasi Candi Palah, kiblatnya mengarah ke Rabut Palah ini. Jadi yang dimaksud Bhatara Palah adalah arwah nenek moyang yang bersemayam di bukit Palah. Sedangkan, dewata yang bersemayam di Kelud, disebut Sang Hyang Acapalati,” lanjutnya.

“Dewa yang tertinggi inilah Siwa, atau Acapalati atau Akcaya saila. Siwa juga disebut dewa gunung. Siwa itu penghancur, yang kemudian diidentikkan dengan letusan Kelud yang membawa kehancuran,” kata alumni pascasarjana UI ini.(Tribunjogja.com/xna)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved