Menguak Misteri Candi Penataran
Candi Ikonik Ganesha Jadi Simbol Utama Kodam V/Brawijaya
Reruntuhan Candi Palah pertama kali tercatat pada laporan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles Inggris pada 1815. Tapi sampai 1850 terabaikan
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Kompleks Candi Palah menempati areal tanah seluas 12.946 meter persegi. Halaman komplek percandian kecuali yang bagian tenggara, dibagi menjadi tiga bagian, yang dipisahkan dua dinding. Bagian-bagian dari Candi Palah terdiri halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang. Hal ini mengambarkan pembuatan komplek candi tidak dalam satu periode.
Di antara bangunan-bangunan di komplek Candi Palah, salah satu yang ikonik kini dikenal sebagai Candi Brawijaya. Bangunannya tinggi menjulang, mencirikan khas gapura atau tugu Majapahit. Bangunan ini jadi lambang utama Kodam V/Brawijaya.
Terkadang ada juga yang menyebutnya Candi Ganesha karena di dalam bilik candinya terdapat sebuah arca Ganesha. Tapia da pula yang mengenalnya sebagai Candi Candra Sengkala. Dinamai demikian karena di bangunan ini terdapat candra sengkala yang diterjemahkan jadi angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi.
Inilah tahun pendirian bangunan ikonik, yang disimpulkan terjadi pada masa kejayaan Majapahit. Bangunan ini berada di sebelah tenggara pendapa teras dalam jarak sekitar 20 meter.
Pintu masuk candi terletak di bagian barat, pipi tangganya berakhir pada bentuk ukel besar dengan hiasan tumpal yang berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki.
Bagian dalam relung candi terdapat sebuah arca Ganesha dari batu andesit dalam posisi duduk di atas padmasana.
Pada bagian atas bilik candi pada batu penutup cungkup terdapat relief Surya Majapahit, yakni lingkaran yang dikelilingi jurai pancaran sinar yang berupa garis-garis lurus dalam susunan beberapa segitiga sama kaki.
Relief Surya Majapahit juga ditemukan di beberapa candi yang lain di Jatim ini dalam variasi yang sedikit berbeda sebagai lambang kerajaan. Di sebelah kiri candi Candra Sengkala terdapat arca wanita yang ditafsirkan sebagai arca perwujudan Gayatri Rajapatni.
Bangunan ikonik kedua di komplek candi ini adalah Candi Naga di halaman tengah. Kini hanya tersisa bagian kaki dan badan dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter.
Nama Candi Naga digunakan untuk menamakan bangunan ini karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan disangga tokoh-tokoh berbusana seperti raja sebanyak 9 buah, masing-masing berada di sudut-sudut bangunan, bagian tengah ketiga dinding dan di sebekah kiri dan kanan pintu masuk.
Para Batara ini menggambarkan sosok makhluk kahyangan, yaitu para dewa dilihat berdasarkan dari ciri busana raya dan perhiasan mewah yang dikenakannya.
Salah satu tangannya memegang genta (lonceng upacara) dan tangan yang lainnya menopang tubuh naga yang melingkar di bagian atas bangunan dalam keadaan berdiri dan menjadi pilaster bangunan.
Kisah di Balik Penemuan The Lost Ganesha dan Lenyapnya Kampung Gepolo di Prambanan
Masing-masing dinding tubuh candi dihiasi dengan relief-relief buatan yang disebut dengan motif medalion. Pintu masuk candi terletak di barat laut dengan pipi tangga berhiaskan tumpal dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter.
Gambar naga disangga 9 sosok ini diintrpretasikan sebagai candrasengkala ”naga muluk sinangga jalma”, yang berarti angka tahun 1208 Saka atau 1286 M. Ini tahun di masa kekuasaan Raja Krtanegara dari Kerajaan Singhasari.
Candi induk ada di posisi halaman ketiga. Terdiri tiga teras berundak setinggi 7,19 meter. Pada masing-masing sisi tangga terdapat dua arca mahakala, yang pada lapiknya terdapat angka tahun 1269 Saka atau 1347 M. ‘
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/candi-palah-atau-candi-penataran_8.jpg)