Menguak Misteri Candi Penataran

Candi Ikonik Ganesha Jadi Simbol Utama Kodam V/Brawijaya

Reruntuhan Candi Palah pertama kali tercatat pada laporan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles Inggris pada 1815. Tapi sampai 1850 terabaikan

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga
Candi Palah atau Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Ini komplek bangunan pemujaan kuna terluas di seantero Jawa Timur. 

TRIBUNJOGJA.COM, BLITAR – Bagi Anda yang belum pernah mengunjungi Candi Penataran, situs kuna ini sebetulnya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Blitar. Jika Anda berziarah ke Makam Bung Karno di Bendogerit, tentu destinasi ini bisa jadi satu paket kunjungan.

Dari Makam Bung Karno, Candi Penataran atau Candi Palah ini hanya sekitar 8 kilometer dengan waktu tempuh relatif singkat. Akses jalannya dari Bendogerit ke Kecamatan Nglegok yang mulai naik ke lereng pegunungan Kelud, mulus dan cukup lebar.

Di dekat komplek candi ini juga terdapat destinasi lain, yaitu wisata air. Jadi kawasan Nglegok ini lumayan ramai jadi pilihan rekreasi masyarakat Blitar dan sekitarnya. Di hari libur panjang, dipastikan pengunjung berjubel.

Kota Blitar bisa dijangkau dari Surabaya maupun dari Yogyakarta menggunakan kereta api dan moda darat lain. Titik penerbangan terdekat adalah lewat Bandara Abdurahman Saleh, Malang. Jarak Malang ke Blitar ini sekitar dua jam perjalanan via Kepanjen.

Candi Palah atau Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Ini komplek bangunan pemujaan kuna terluas di seantero Jawa Timur.
Candi Palah atau Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Ini komplek bangunan pemujaan kuna terluas di seantero Jawa Timur. (TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga)

Meski belum dikelola selaiknya Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, komplek Candi Palah ini sudah terawatt baik di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Pemugaran yang dilakukan beberapa kali sudah menunjukkan kemegahan masa lalu bangunan suci kuna ini.

Reruntuhan Candi Palah pertama kali tercatat pada laporan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles Inggris pada 1815. Tapi sampai 1850 tetap terabaikan, hingga perlahan mendapat perhatian sejarah dan arkeolog Belanda.

Candi ini memiliki kekhasan dalam ikonografi reliefnya. Gayanya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang kulit. ‘

Gaya pengukiran serupa ada di Candi Sukuh, lereng Gunung Lawu, dari masa akhir periode Hindu-Buddha di Nusantara. Jenis bangunannya, terutama candi induk di Palah dan Sukuh, memiliki kemiripan, yaitu punden atau piramida berundak.

Kompleks candi merupakan gugusan beberapa bangunan yang membujur dalam poros barat laut-tenggara. Di belakang candi utama di sisi timur terdapat patirtan atau umbul di dekat sungai yang berhulu di gunung Kelud.

Kompleks candi ini disusun dalam pola linear, beberapa candi perwara dan balai pendopo terletak di depan candi utama. Sebagian kelengkapan arsitektural asli, seperti gapura, sudah runtuh. Jejaknya tinggal pondasi berbahan bata merah kuna.

Tata letak bangunan di Palah ini berbeda dengan candi pada langgam Jateng, yang umumnya tersusun dalam pola mandala konsentrik. Candi utama terletak di tengah halaman candi dikelilingi barisan candi perwara.

Pola susunan linear dengan pola agak tidak beraturan di Candi Palah ini ciri khas langgam Jawa Timur yang berkembang sejak zaman Kadiri hingga Majapahit. Polanya berlanjut hingga tata letak bangunan dan pura di Bali saat ini.

Relief - relief yang terdapat di Candi Palah atau Candi Penataran
Relief - relief yang terdapat di Candi Palah atau Candi Penataran (TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga)
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved