Nasional
Inilah Sensasi Letusan Super Krakatau di Buku Simon Winchester
Catatan dari saksi mata menyebutkan kolom semburan material mencapai 24 mil tingginya, menembus luar angkasa.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
Mereka mengira ledakan itu tembakan meriam kapal Belanda.
Namun ketika mereka berlari ke pantai, mereka menyaksikan api berkobar di puncak Perboewatan di gugusan gunung Krakatau.
Abu bercampur lava pijar terlontar berkesiur memenuhi udara.
Para nelayan itu kabur dan melapor ke kontrolir di Katimbang.
Tak percaya dengan laporan nelayan, Mr Altheer dan Mr Beyerinck melesat ke perahu dan melaju ke Pulau Sebuku dan Sebesi.
Perahu mereka menerabas lautan batu apung yang sudah memenuhi perairan.
Setelah empat jam melaju, kedua orang Belanda ini menyaksikan pantai Krakatau memang benar- benar berubah jadi api.
Dalam pandangan mereka, puncak Perboewatan sedang bersiap meledak.
Mereka belum tahu sepenuhnya, dalam beberapa pekan berikutnya, petaka dahsyat akan terjadi.
Setelah memberi isyarat dengan letusan pendahuluan yang luuar biasa, Krakatau kembali tenang.
Gempa berkurang, letusan mereda, dan di periode itu sejumlah ahli Belanda melihat dari dekat kondisi gunung.
Pada Minggu pagi, 26 Agustus 1883, hampir semua penduduk lokal maupun kolonial di Anyer, Batavia, Katimbang hingga Telukbetung menunjukkan kegelisahan yang mendalam.
Mereka menunggu apa yang terjadi di tengah Selat Sunda.
Kejang-kejang dan sekaratnya Krakatau berlangsung persis 20 jam 56 menit pada 26-27 Agustus 1883.
Ada empat letusan besar mendahului salvo pamungkas Krakatau pada Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.02.