Nasional
Inilah Sensasi Letusan Super Krakatau di Buku Simon Winchester
Catatan dari saksi mata menyebutkan kolom semburan material mencapai 24 mil tingginya, menembus luar angkasa.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Buku karya Simon Winchester Krakatoa : The Day The World Explode, August 27, 1883, telah dialihbahasakan oleh penerbit Serambi pada April 2006 dengan judul yang serupa.
Saking larisnya buku ini, cetakan kedua dibuat September 2006.
Secara umum, isi buku ini sangat bagus, detail, dan komprehensif mengungkap drama letusan gunung Krakatau.
Datanya faktual, sebagian besar laporan dan kesaksian tertulis warga Belanda.
Ada juga laporan perjalanan kapal laut dari sejumlah maskapai di Inggris, AS dan juga Belanda yang ketika kejadian tengah berlayar di perairan Hindia Belanda. Kekuatan utama buku ini ada pada detail drama yang disajikan Simon.
Tidak hanya tentang Krakatau pada sekitar 1883, tetapi juga dilengkapi sejarah geologis gunung di Selat Sunda yang merupakan pertemuan dua lempeng tektonik paling aktif, lempeng Australia dan Euroasia.
Baca: Bassist Seventen Meninggal Dunia dalam Bencana Tsunami Banten
Puluhan ribu tahun sebelum 1883, gunung Krakatau sudah menjulang perkasa.
Dikenal sebagai Krakatau Purba, gunung itu juga konon meledak dahsyat memuntahkan material raksasa ke sekitarnya.
Terbentuklah kaldera raksasa yang kemudian tenggelam meninggalkan puncak-puncaknya setelah masa glasial atau zaman es berakhir.
Sekali lagi Krakatau baru meletus hebat pada 1680, dan sejumlah kecil laporan datang dari pelayar Eropa yang melintas di Selat Sunda.
Laporan awal tanda akan meletusnya Krakatau muncul pada Mei 1883.
Getaran-getaran konstan dirasakan seorang kontrolir perkebunan Belanda di Katimbang (Lampung), kemudian dilaporkan ke Residen Lampung sebelum diteruskan ke Batavia.
Baca: 20 Orang Meninggal, 165 Luka Akibat Tsunami Banten
Laporan-laporan berikutnya makin deras, datang dari kapten-kapten kapal dagang maupun militer dari Jerman, AS, Inggris, Belanda yang melintas di Selat Sunda.
Laporan itu seragam, mendeskripsikan segala keanehan tentang gunung di tengah selat sibuk itu.
Pada hari letusan pendahulu, ada cukup banyak laporan dari kapal-kapal laut yang melintas dalam jarak cukup dekat.