Kisah Pakar Manusia Purba

'Saya Terobsesi Manusia Purba Sejak SMA'

Dr Harry Widianto DEA dikukuhkan sebagai Profesor Riset LIPI, Senin (26/11/2018). Ia menjadi profesor riset ke-8 dari lingkungan Kemendikbud

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
IST | Harry Widianto
Dr Harry Widianto DEA 

Dr Harry Widianto DEA dikukuhkan sebagai Profesor Riset LIPI, Senin (26/11/2018). Ia menjadi profesor riset ke-8 dari lingkungan Kemendikbud. Pidatonya bertajuk "Migrasi dan Proses Hunian Manusia di Kepulauan Nusantara Kala Plestosen-Holosen". Ia bertutur banyak tentang perjalanan hidupnya yang pernuh warna.

HARRY Widianto tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sesudah dikukuhkan sebagai profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia akan melanjutkan kiprahnya hingga 10 tahun ke depan, pada bidang ilmu yang dikuasainya; manusia purba.

Manusia Purba Semedo Pembuat dan Pengguna Alat Batu Sangat Khas

"It is not the end, but the beginning. Harus lebih berkiprah lewat fase ini," tulisnya dalam pesan pendek yang dikirimkan ke Tribun Jogja sebelum wawancara. Selain lima tahun terakhir menduduki jabatan struktural di pemerintahan, Harry menghabiskan waktunya meneliti manusia purba. 

Pakar Manusia Purba Ini Nyatakan Penduduk Nusantara Punya Akar Genetik yang Sama

"Itu memang obsesi saya sejak SMA. Saya tergiang-ngiang pelajaran sewaktu SMP, tentang Pithecantropus dan Megantropus. Saya baca sebanyak-banyaknya yang bisa saya bisa," aku Harry Widianto di kediamannya yang asri di tepi Kali Winongo, bilangan Jatimulyo Baru. 

Dr Harry Widianto DEA
Dr Harry Widianto DEA (IST | Harry Widianto)

Selulus SMA di Magelang pada 1976, Harry Widianto menetapkan pilihannya ingin belajar arkeologi. Di benaknya, jurusan itulah yang bisa mengantarkan dirinya mewujudkan obsesinya mempelajari manusia purba.

Ia sebenarnya diterima di jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM, namun justru memilih ke Fakultas Sastra dan Budaya. Banyak yang mencibirnya kala itu. "Kamu kok pilih Sastra Budaya, arep dadi opo?" kenang Harry melukiskan masa-masa selulus SMA. 

Evolusi Manusia Purba menjadi Makhluk Cerdas Dipengaruhi Ketangkasan Tangan

"Namun ayah saya bilang, ikuti kata hatimu. Saya jadi mantap, dan benar-benar fokus. Namun, saya tidak membayangkan, ternyata jalan mewujudkan obsesi saya tentang manusia purba tidak mudah," lanjutnya.

Mempelajari manusia purba ternyata bukan bidang utama arkeologi. Justru ilmunya menurut Harry, lebih dekat ke kedokteran dan biologi, karena mempelajari anatomi manusia. Pengetahuan itu hanya ada di kedua bidang ilmu itu. 

VIDEO : Menggali Jejak Manusia Purba di Gua Braholo Gunungkidul

Lalu apa yang dilakukan Harry? "Singkat cerita, saya berusaha mencapainya dari bidang paling mendekati, yaitu budaya. Saya mempelajari artefak paleolitiknya, mempelajari alat-alat batu manusia purba. Hanya itu yang mungkin dilakukan saat itu," ujar bapak dua putri ini. 

Harry menuntaskan studinya di Sastra Budaya UGM dengan penelitian artefak batu manusia purba (paleolitik) di Kali Oya, Semin, Gunungkidul. Kuliahnya diselesaikan tahun 1983, dan langsung bekerja sebagai staf Balai Arkeologi Yogyakarta.

Gua Braholo di Gunungkidul Ini Menyimpan Sejumlah Misteri Terkait Kehidupan Manusia Purba

Harry sempat meninggalkan Yogyakarta karena mengikuti training dan penelitian kesejarahan spesialis bawah air di Thailand antara 1984-1986. Ia mengalami masa menakutkan ketika dua rekannya di Thailand hilang dan digigit hiu saat menyelam.

Sepulang ke Yogyakarta, Harry kembali terlibat dalam penelitian prasejarah di Mulyorejo, Cepu, Jateng. Penelitian lapangan di lokasi penemuan fosil gajah (Elephas sp) di Cepu ini ternyata kemudian mengubah jalan hidupnya.

Saat tengah mengekskavasi temuan fosil gajah purba itu, ia didatangi sepasang suami istri peneliti dari Prancis. Namanya Francois Semah dan Ann Marie Semah. Francois Semah peneliti geologi yang spesialis stratigrafi dan pertanggalan umur.

Enam Kerangka Manusia Purba Ditemukan dalam Posisi Terlipat

Sedang Ann Marie Semah ahli polen (serbuk bunga) dari flora purba. Keduanya selama tiga hari menyaksikan jalannya ekskavasi yang dipimpin Harry. Selama itu pula terjalin diskusi yang panjang dan seru menyangkut banyak hal tentang prasejarah dan manusia purba. 

Mereka tidak pernah saling kenal sebelumnya. Setelah tiga hari, Francois Semah dan istrinya pulang ke Bandung lalu kembali ke Paris. Ternyata duo Semah itu berasal dari Institut Paleontologie Humaine, kampus tersohor di Prancis di bidang sejarah manusia purba. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved