Yogyakarta
Mengenal Sosok Mbah Yudi, 'Si Raja Egrang' dari Yogyakarta
Mengenal Sosok Mbah Yudi, 'Si Raja Egrang' dari Yogyakarta. Pernah Tempuh Perjalanan Yogya-JakartaSelama 50 Hari.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM - Semangat Mbah Yudi Karyono untuk melestarikan pemainan tradisional egrang memang patut diapresiasi.
Cintanya pada permainan egrang bahkan sudah dibuktikan dengan menempuh perjalanan cukup panjang. Sejauh ratusan kilometer.
Tak tanggung-tanggung, demi mempopulerkan egrang kepada anak-anak Indonesia, lelaki berusia 56 tahun itu pernah berjalan menggunakan egrang dari Kota Yogyakarta menuju Jakarta.
"Perjalanan itu (Yogyakata-Jakarta) saya tempuh selama 50 hari, pada tahun 2015," katanya, saat ditemui tribunjogja.com sedang bermain egrang di Alun-alun kidul, Sabtu (24/11/2018)
Perjalanan menggunakan egrang sepanjang 523 kilometer lebih itu ditempuh oleh Mbah Yudi dengan satu misi mulia.
Baca: Yayasan Cendekia Mitra Indonesia Bantu Masyarakat Desa Bolo Boyolali Optimalkan Potensi Pertanian
Ia menitipkan satu pesan kepada Presiden Joko Widodo tentang masa depan permainan tradisional Indonesia.
Menurutnya, anak-anak zaman sekarang sudah sangat jarang dalam memainkan aneka permainan tradisional. Semuanya nyaris sudah tergantikan dengan aplikasi dalam gadget.
"Saya sadar teknologi memang tak bisa dilawan. Tapi tujuan saya ingin mempopulerkan kembali egrang sebagai permainan tradisional yang menyenangkan,"ucapnya
"Atau setidaknya bisa mengimbangi anak-anak yang sering bermain dalam gadget," imbuhnya.
Egrang sendiri adalah permainan dari dua bilah tongkat bambu yang digunakan, supaya seseorang bisa berdiri seimbang dalam jarak ketinggian tertentu, di atas tanah.
Egrang yang digunakan oleh Mbah Yudi ketika melakukan perjalanan jauh merupakan egrang khusus dan diberi nama "Raja Egrang" karena kualitasnya yang sanggup menempuh perjalanan jarak jauh.
"Jadi raja egrang itu alatnya, medianya, bukan saya, tapi egrang yang saya gunakan untuk perjalanan jauh itu dinamakan Raja egrang," terangnya.
Namun belakangan, sebutan bagi raja egrang akhirnya melekat dan tak terpisahkan pada diri Mbah Yudi.
Raja egrang, kata Mbah Yudi, merupakan egrang setinggi sekira empat meter yang sudah dimodifikasi pada bagian bawah, dengan memberinya peredam berbahan karet dari ban bekas, supaya tidak cepat habis ketika terkena gesekan aspal.
Pada tatakan alas kaki juga telah dimodifikasi dengan menambahkan plat besi, dilapisi juga sandal dan busa supaya nyaman ketika dipijak.
Baca: Cerita Pemindahan Makam Raden Ronggo dan Langit yang Tiba-tiba Pekat Disertai Kilatan Petir
Pada bagian atas egrang, Mbah Yudi menambahkan atribut berupa bendera merah putih.
"Merah putih itu tanda bahwa saya sangat mencintai Indonesia," tuturnya.
Lanjutnya, Mbah Yudi berpendapat egrang merupakan permainan tradisional yang sangat menyenangkan. Sangat merugi bagi anak-anak yang tidak pernah mengenal permainan egrang.
Oleh karena itu, warga dari RT 48 RW 13 Kelurahan Panembahan Keraton Yogyakarta itu mengaku bakalan terus menggiatkan egrang agar tetap lestari dan menjadi permainan yang cukup populer.
Ucapan Mbah Yudi untuk mempopulerkan egrang bukan isapan jempol belaka. Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer ke Ibu Kota.
Tahun berikutnya, tepatnya tahun 2016, dengan menaiki egrang yang sama, Mbah Yudi menempuh perjalanan dari kota Yogyakarta menuju kota Surabaya.
Jarak tempuh berdasarkan perhitungan Google Maps sejauh 332 kilometer.
"Perjalanan dari kota Yogyakarta-Surabaya saya tempuh selama 18 hari," terangnya.
Baca: Kasus Baiq Nuril, Kasus Pelecehan Seksual Secara Verbal Pertama yang Ditangani Polda NTB
Sepanjang perjalanan menuju kota Surabaya, diakui Mbah Yudi, banyak berhenti ke pondok pesantren untuk bersilaturahmi dengan para kyai Jawa timur. Sebelum akhirnya bertemu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.
"Saya hadiahkan sepasang egrang kepada Walikota Surabaya, Bu Risma," ucapnya.
Perjalan menuju Surabaya, Bagi Mbah Yudi semacam pembuktian bahwa ia bersama Paguyuban Notoroso memiliki tekad bulat dan serius untuk melestarikan egrang, sebagai warisan budaya Indonesia.
Notoroso, menurutnya, merupakan paguyuban untuk menjunjung tinggi nilai kedaerahan. Rasa untuk saling menjaga antar tradisi dan budaya satu sama lain.
"Indonesia negara luas. Dari Sabang sampai Merauke, ada banyak berbagai macam adat tradisi dan budaya. Itu harus kita jaga bersama," ucap dia. (tribunjogja)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-sosok-mbah-yudi-si-raja-egrang-dari-yogyakarta.jpg)