Duwet, Buah Kampung yang Sering Disepelekan Padahal Kaya Antioksidan
Asam galat mampu mengerutkan saluran kencing, glukosida phytomelin mempercepat penyembuhan luka, dan bijinya untuk menurunkan kolestrol.
TRIBUNJOGJA.COM - Duwet (Eugenia cuminni, Merr. atau Syzygium jambolanum Miq.) sering disebut juga juwet atau jamblang dikenal sebagai plum jawa (java plum).
Pohon duwet bisa mencapai tinggi 10 - 20 m dan bergaris tengah 60 cm. Buahnya biru keunguan, lonjong agak segi empat panjangnya 10-20 mm, diameter 5-10 mm, berkulit halus, dan berbiji tunggal.
Buah matang warnanya berubah dari ungu kemerahan menjadi ungu gelap. Rasanya manis asam, agak sepat, sering dimakan sebagai buah atau manisan.
Ada jenis yang berwarna putih, dinamai duwet putih. Namun jarang ditemui dan kurang populer.
Walaupun rasanya lebih manis, lebih segar, dan kurang sepat, buah duwet masih satu keluarga dengan jambu air dan cengkih.

Duwet mengandung asam galat, glukosida phytomelin, dan senyawa tanin.
Asam galat mampu mengerutkan saluran kencing, glukosida phytomelin mempercepat penyembuhan luka, dan senyawa tanin pada biji duwet bermanfaat untuk menurunkan kolestrol.
Mengandung karbohidrat, berbagai macam vitamin, asam organik, tanin, dan resin merah gelap. Juga terdapat antosianin, salah satu anggota senyawa polifenol.

Buah duwet mempunyai daya antioksidan tinggi. Kemungkinan disebabkan oleh warna ungu atau pigmen ungu yang disebut antosianin.
Daya antioksidan buah duwet dipengaruhi oleh tahapan kematangannya. Pada buah mentah yang masih hijau, daya antioksidannya rendah.
Buah hampir masak berwarna merah dan masih keras, daya antioksidannya meningkat. Buah masak yang berwarna ungu, daya antioksidannya paling tinggi. Karena itu, buah duwet sebaiknya dikonsumsi pada saat sudah masak.

Duwet juga berkhasiat meredakan batuk kronik karena asma, batuk rejan, dan batuk yang berkaitan dengan TBC dan nyeri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/duwet-atau-jamblang_20181006_142430.jpg)