Perajin Bambu di Mangunan Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Bahan Plastik
Di tengah gempuran perabotan rumah tangga berbahan plastik, stainless steel dan enamel, perajin Bambu di Bantul
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Di tengah gempuran perabotan rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik, stainless steel dan enamel, perajin Bambu di Bantul tetap bertahan menggunakan Bambu sebagai bahan dasar kerajinan perabotan rumah tangga.
Adalah Teguh Pramono, perajin asal padukuhan Muntuk, Mangunan, Bantul.
Setiap harinya puluhan dari aneka macam perlengkapan rumah tangga dari bahan Bambu di produksi.
Baca: Melihat Dekat Proses Kerajinan Tudung Saji dari Bambu di Mangunan Bantul
Baca: Stikip Catur Sakti Tingkatkan Kualitas Guru PAUD di Bantul
Bukan tanpa alasan, ia masih terus melestarikan Bambu sebagai bahan dasar kerajinan. Menurutnya, peralatan rumah tangga yang terbuat dari Bambu akan jauh lebih sehat, ketimbang terbuat dari plastik.
"Saya sendiri kalau menggunakan peralatan dari plastik kurang suka. Karena tidak sehat. Makanya saya ganti menggunakan Bambu," tuturnya, ketika ditemui di kedainya, Minggu (30/9/2018)
Kepada tribunjogja.com, Teguh mengaku sudah memproduksi aneka kerajinan bambu pasca tragedi gempa, tahun 2006 silam. Awalnya ia mengaku hanya berprofesi sebagai penjual sayur keliling.
Namun, lambat laun, melihat potensi desa Mangunan yang kaya akan tanaman Bambu, dirinya berinisiatif untuk mengolah Bambu menjadi aneka macam kerajinan.
Di kedai miliknya, saat ini, aneka macam kerajinan dari Bambu terlihat dipajang untuk dijualbelikan.
Ada tudung saji, tempat hantaran manten, caping bambu petani, kentongan bebek, kap lampu, kukusan Bambu, tempat kerupuk Bambu, nampan Bambu, tempat telur asin, tempat nasi, tempat payung, tempat sendok hingga Besek Bambu.
Semua kerajinan Bambu ini, diakui Teguh, sebagian didatangkan dari para pengrajin bambu yang ada di sekitar desa Mangunan Bantul. Namun ada juga sebagian yang didatangkan dari luar kota Yogyakarta.
"Saya memiliki 28 pengrajin Bambu. Pengrajin itu ada di sekitar Desa Mangunan, desa Terong, Bantul. Tetapi ada juga pengrajin dari Purworejo, Godean hingga Gedang sari, Gunungkidul," ungkap dia.
Harga dari masing-masing kerajinan bambu sangat bervariatif. Dari mulai harga Rp 500 rupiah hingga puluhan ribu rupiah. Tergantung bentuk dan model kerajinan yang dibuat.
Pangsa pasar dari kerajinan Bambu yang dimiliki Teguh pun cukup luas. Beberapa barang miliknya diakuinya dikirim ke sebagian wilayah Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.
Baca: BPD DIY Siap Beri Dukungan untuk UMKM Daerah
Baca: Pemkab Sleman Dorong UMKM Sleman Harus Go International
"Kerajinan ini dikirim ke kota Jogja, Malang, Cirebon, Bekasi, Jakarta, Sulawesi. Bulan Oktober nanti juga kirim Ke Malaysia," terangnnya.
"Kalau untuk memenuhi semua pasar. Saya kekurangan pengrajin," imbuh dia.
Di pangsa pasar Malaysia, menurut Teguh, kerajinan bambu asal Mangunan cukup diminati. Utamanya jenis kerajinan Tampah segitiga yang banyak digunakan di setiap Restoran- Restoran Negeri Jiran.
"Saya pernah enam tahun di Malaysia sana. Paling banyak memang diminati tampah segitiga ini. Biasanya untuk Restoran," ungkap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/perajin-bambu-di-mangunan-tetap-bertahan-di-tengah-gempuran-bahan-plastik_20180930_182555.jpg)