Seratusan Liang Makam Terdampak NYIA Belum Direlokasi

Seratusan liang makam di areal lahan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon belum dipindahkan

tribunjogja.com/ing
Sebuah eskavator tengah bekerja menggali lubang calon liang baru di kompleks relokasi Glagah untuk pemindahan makam terdampak pembangunan NYIA di Temon. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Seratusan liang makam hingga saat ini masih tersisa di areal lahan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon dan belum dipindahkan.

Alotnya perundingan dengan ahli waris dari kalangan warga penolak bandara membuat pemerintah desa kesulitan merelokasi kuburan tersebut.

Kuburan yang masih tersisa itu berada di wilayah Desa Glagah dan Palihan.
Seratusan liang makam itu teronggok begitu saja meski lahan di sekitarnya sudah diratakan dan berbagai aktivitas proyek pengerjaan NYIA semakin gencar dilakukan.

Baca: Formasi CPNS Kabupaten Kulon Progo 2018, Total Tersedia 383 Formasi

Baca: Formasi CPNS 2018 Jogja, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Pendaftaran Tunggu BKN

Pemerintah desa mengaku tak bisa berbuat banyak atas keadaan ini lantaran mereka juga terkendala belum bersedianya ahli waris untuk pemindahan makam tersebut.

Kepala Desa Glagah, Agus Parmono mengatakan bahwa PT Angkasa Pura I selaku pemrakarsa pembangunan NYIA menginginkan semua makam tersisa segera dipindahkan sekaligus hingga akhir September ini.

Namun, hal itu tak mudah dilakukannya mengingat mayoritas ahli waris atas sisa makam tersebut adalah kalangan keluarga warga penolak NYIA yang kukuh tak mau kuburan itu dipindah.

Mereka menolak meski biaya pemindahan ditanggung pemerintah desa.

Upaya pemerintah desa mendatangi warga dan menyampaikan surat pemindahan makam itu ke tempat yang telah disediakan pun tak membuahkan hasil.

"Maunya AP I urusan makam itu selesai akhir September dan langsung dipindah karena lahannya masuk area untuk pembangunan apron dan terminal.

Kalau tidak tercapai, bakal dipindah paksa oleh AP I. Saat ini masih ada warga yang berkukuh tidak mau dipindah,"kata Agus, Selasa (25/9).

Dari 7 titik kompleks permakaman terdampak bandara di wilayah Glagah, hanya makam keluarga Mondorakan di Pedukuhan Sidorejo dan Makam Mbah Drajat di Bapangan yang sudah tuntas direlokasi beberapa bulan silam.

Makam-makan itu dipindahkan ke lahan baru seluas 6.000 meter persegi di utara kompleks perumahan relokasi warga di Pedukuhan Bebekan dan ditata berderet sesuai kelompok wilayah asal.

Adapun yang masih tersisa secara total ada sekitar 115 liang makam di beberapa titik kompleks permakaman yang belum dipindahkan.

Antara lain di Pedukuhan Kepek (Makam Nyi Kopek dua liang, Makam Nyi Bunder 8 liang) dan Bapangan (Makam Sorogenen 18 liang, Makam Nyi Bapangsari 15 liang, Makam Gunung Dumplong sekitar 80 liang).

Baca: Minapadi Kian Digemari Petani Sleman, BPTP DIY Kembangkan Metode Pertanian Minakodal

Baca: Pemkab Gunungkidul Hentikan Sementara Aktivitas Peternakan di Kawasan Karst

Pada Selasa (25/9) itu, upaya relokasi makam kembali dilanjutkan.

Ada sekitar 26 liang yang bisa dipindahkan oleh tim pemindahan makam yang dibentuk desa didampingi petugas AP I dan segelintir ahli waris makam.(ing)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved