Pendidikan

UNY Gelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru

UNY Gelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru. Hari Ini Mahasiswa Baru UNY Ikuti Kuliah Umum.

UNY Gelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru
Tribun Jogja/ Santo Ari
Kuliah umum mahasiswa baru UNY di GOR UNY, Selasa(14/8/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Selasa (14/8/2018).

Acara yang berlangsung di GOR UNY ini mengangkat tema Generasi Unggul untuk Indonesia Madani dengan mengundang pembicara Dirut LPP TVRI, Kapolda DIY, dan Komandan Korem 072 Pamungkas.

Dirut LPP TVRI Helmi Yahya didapuk untuk memberikan kuliah umum dan kali ini membahas tentang era disrupsi.

Diungkapkanya orang terkaya bukan lagi raja minyak, tapi orang yang berbisnis dalam bidang teknologi informasi.

Tahun 2006 perusahaan besar masih di bidang minyak dan otomotif, namun saat ini perusahaan besar yang bergerak di bidang IT dan informasi seperti Google, Amazon, FB, Alibaba.

"Perlawan konvensional tak bisa menang dengan teknologi. Teknologi memiliki sisi baik dan tidak baik. Banyak bisnis hilang, tapi juga muncul bisnis baru," ujarnya.

Baca: Persiapan Perayaan 100 Tahun Kanisius, Siswa TK SD Kanisius Demangan Baru Latihan Drama

Ia pun menuturkan ciri-ciri disrupsi, di antaranya yakni inovasi, mengubah value (mudah, cepat, bervariasi), mengubah perilaku atau model bisnis.

Sementara itu, Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri memberikan materi tentang kebangsaan.

Dofiri menuturkan bahwa mereka yang bisa menempuh pendidikan di Yogyakarta adalah orang yang beruntung.

"Beruntunglah kalian yang kuliah di Yogya. Miniatur indo, yang memiliki banyak julukan, dan ini potensi luar biasa," ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Yogyakarta adalah bagian dari city of tolerance.

Maka dari itu ia menekankan bahwa pendidikan di kampus harus bersikap kebangsaan dan nilai nasionalisme harus ditanamkan.

"Saat ini kita masuk ke era kompetisi global, yang dihadapi sekarang bukan konvensional, tapi sekarang masalahnya adalah ideologi, ekonomi, budaya, informasi dengan menggunakan operasi intelejen. Sedangkan tantangan ke-bhineka-an adalah intoleransi, radikalisme dan terorisme," ujarnya.(tribunjogja)

Penulis: nto
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved