Kota Jogja
Ketua Komisi A DPRD DIY Ajak Masyarakat Yogya Terus Gelorakan Semangat Perjuangan
Seni tradisi wayang kulit juga memiliki fungsi tuntunan atau pembelajaran dan pewarisan nilai keteladanan.
TRIBUNJOGJA.COM - Selain menjadi sarana hiburan dan tontonan, seni tradisi wayang kulit juga memiliki fungsi tuntunan atau pembelajaran dan pewarisan nilai keteladanan.
Hal itu pula yang menjadi salah satu latar belakang digelarnya pentas wayang kulit dengan lakon 'Duryudana Gugur', di halaman DPRD DIY, Rabu (25/7/2018).
Pentas wayang kulit ini dihadiri ribuan penggemar seni wayang kulit.
Pementasan ini sekaligus menjadi sarana menyampaikan pesan kepada publik, sekaligus ajakan agar terus merawat nilai dan semangat mengisi kemerdekaan RI dengan terus berjuang melawan keangkuhan, keangkaramurkaan, keculasan, ketidakjujuran dan penindasan.
Demikian disampaikan oleh Ketua Komisi A DPRD DIY dari fraksi PDI Perjuangan dapil Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, saat memberikan sambutan pada pentas wayang semalam suntuk yang digelar di halaman DPRD DIY, Rabu malam.
“Lakon Duryudana Gugur , menginspirasi kepada kita, bagaimana perjuangan Werkudoro menumpas Duryudana dan Sengkuni yang memiliki watak keangkuhan keangkaramurkaan, keculasan, ketidakjujuran, penindasan,” kata politisi muda PDI Perjuangan, Eko Suwanto.
Secara khusus, Eko Suwanto juga mengucapkan rasa terima kasih atas dukungan media massa yang memberikan menghadirkan cerita kebudayaan dalam publikasi media.
Eko menambahkan momen budaya gelaran wayang kulit juga bisa jadi refleksi bersama atas kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, termasuk peran rakyat Yogyakarta di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Pakualam ke VII, memiliki kontribusi, tidak saja membantu kemerdekaan tapi juga saat ada Maklumat 5 September, ada pernyataan pengakuan RI, dan bergabung berjuang bersama kemerdekaan.
“Wayang kulit, dengan lakon Duryudana Gugur ini memberikan keteladanan bagi kita, agar selalu merawat watak mulia, kejujuran dan keberanian seperti yang ditampilkan oleh Werkudara. Kita ketahui Proklamator RI, Ir Soekarno suka dengan sosok Werkudara,” imbuhnya.
Eko menambahkan dirinya merasa bahwa generasi muda ke depan, yakni generasi millenial, juga harus tetap kenal dan mau belajar seni wayang.
Jelang perayaan kemerdekaan RI ke 73, disebutkan warga Yogyakarta memiliki rekaman jejak sejarah panjang. Di Pakualaman sampai kini masih terawat kamar ruang tidur Proklamator RI, Soekarno.
“Belum lama sowan ke Sri Paduka Pakualam X, kamar Bung Karno masih dirawat dengan baik. Kita ke depan perlu menggelorakan, berjuang membahagiakan rakyat Indonesia,” kata Eko Suwanto.
Pentas wayang kulit semalam suntuk ini adalah bagian DPRD DIY untuk menggelorakan semangat perjuangan bekerja sama dengan pemda, TNI dan Polri.
Sekaligus sebagai ajang pertemuan antar warga dalam suasana santai agar selalu tercipta rasa aman dan nyaman di DIY.
Selain dihadiri oleh Forkompinda, camat dan lurah desa di Kota Yogyakarta, acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini sekaligus jadi bagian rangkaian peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 1945.
“Wayangan 'Duryudana Gugur' dengan dalang muda, Ki Seno Nugroho , rakyat bisa melihat sifat dan watak pemimpin seperti sosok Werkudara yang jujur, rendah hati dan berani. Selamat datang, di sini tonggak perjuangan ditumbuhkan kembali bangsa Indonesia, serta merawat, menjaga keistimewaan daerah Yogyakarta," kata Eko Suwanto. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/eko-suwanto_20180726_133909.jpg)