Kota Jogja

Tahun Ajaran Baru, Kapolresta Yogyakarta Ingin Masuk ke Sekolah

Menyambut tahun ajaran baru, Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Armaini, SIK mengatakan akan masuk ke sekolah-sekolah.

Tayang:
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Kapolresta Yogyakarta, AKBP Armaini 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Menyambut tahun ajaran baru, Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Armaini, SIK mengatakan akan masuk ke sekolah-sekolah.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk tindakan untuk mencegah kenakalan remaja, terutama klitih.

"Menangani klitih kan tidak hanya akibatnya saja, tetapi juga akarnya. Akibat, bisa pidana, dengan penegakan hukum, kita proses. Kalau akar, kan ada yang kurang kontrol sosial, kotrol orangtua, dan sekolah. Tahun ajaran baru ini kita gunakan untuk pembinaan pada sekolah dan masyarakat," kata Kombes Pol Armaini saat ditemui Tribunjogja.com dalam FGD Masalah Klitih di Gedung Soegaondo, UGM Kamis (12/7/2018).

Ia melanjutkankan kelompok atau gank bisa memanfaatkan momen tahun ajaran baru untuk mendoktrin siswa baru. Oleh sebab itu, ia harus masuk lebih dulu, daripada doktrin dari gank.

"Ajaran baru kan dimanfaatkan untuk doktrin siswa baru, makanya kita mesti masuk dulu sebelum mereka masuk. Kita masuk ke sekolah saaat acara sekolah, orangtua juga perlu," lanjutnya.

Dalam FGD Masalah Klitih, seorang pembicara, Dr Arum Febriani, S Psi, MA memaparkan hasil penelitiannya tahun 2017 lalu.

Ia menerangkan, dalam penelitiannya, ia meneliti tentang kecerdasan, kepribadian,kematangan emosi, sosial, dan juga konsep diri.

Selain itu ia juga meneliti tentang hubungan keluarga, dan hubungan dengan kelompok.

Ia pun mencari tahu riwayat melakukan tindak kekerasan.

"Dari hasil wawancara juga, ada relasi yang buruk dengan orangtua. Ada yang dari kekerasan fisik. Kekerasan fisik dianggap sebuatu yang wajar, makanya dia akhirnya juga kebal. Merasa sakit, tetapi ya biasa. Lalu ada yang rindu dengan sosok ayah. lalu kontrol orangtua lemah," terangnya.

Arum juga menerangkan bahwa pelaku klitih juga memiliki motivasi akademik yang rendah.

Bahkan ada pelaku yang tidak memiliki cita-cita.

Dalam temuannya, ia pun memaparkan bahwa hubungan dengan kelompok sangat erat.

"Mereka nyaman di kelompok tersebut, karena merasa senasib sepenanggungan. Doktrin mereka kuat. Jadi mereka itu kalau mati demi kelompoknya, dianggap bagus. Kalau dipenjara, nanti setelah keluar mereka jadi pemimpin," terang Arum.

"Jadi kalau kita mau mencari solusi, kita cari pentolan-pentolannya dari kelompok tersebut. Sebenarnya mereka itu bukan pelaku, tetapi juga korban. Mereka juga punya luka batin. Seperti tadi yang diungkapkan, ada yang rindu sosok ayah, ingin dipeluk ibu. Makanya figur orangtua juga penting,"paparnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved