Singgah di Masjid Bersejarah
Video Masjid Agung Giriloyo, Jejak Sultan Agung Sepulang dari Mekkah
Video Masjid Agung Giriloyo, Jejak Sultan Agung Sepulang dari Mekkah Di Bukit Kabul, Dusun Cengkehan, Wukirsari, Imogiri.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Berdiri tenang di bawah Bukit Kabul, Giriloyo, Masjid Agung ini dikelilingi pohon rindang.
Udara sejuk pun menyelimutinya yang menambah khuyuk jemaah beribadah.
Masjid Agung Giriloyo merupakan satu di antara masjid tua yang berdiri kokoh di kaki sebuah bukit di Kompleks Pemakaman Giriloyo, Dusun Cengkehan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul.
Berdirinya masjid dan Kompleks Makam Giriloyo ini sangat erat kaitannya dengan Masjid Pajimatan dan Kompleks Pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri.
Usia dari kedua masjid dan pemakaman diperkirakan tak jauh berbeda, dibangun pada Abad 16 Masehi lebih dari 368 tahun silam.
Diceritakan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Muhammad Ilham, Kompleks Pemakaman Giriloyo dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung, tepatnya pada kisaran tahun 1632 Masehi.
Untuk diketahui, Sultan Agung memerintah kerajaan Mataram dari tahun (1611-1645) M.
Awal mula pembangunan Kompleks Pemakaman Giriloyo bermula ketika Sultan Agung, menunaikan Salat Jumat di Mekkah, Arab Saudi. Tak sengaja menemukan tanah yang berbau wangi.
"Sultan tertarik dengan tanah itu dan menginginkan, jika kelak meninggal, ia dan keluarganya berharap bisa dimakamkan di tanah wangi itu," tutur Ilham.
Karena hasrat tersebut, Sultan kemudian matur (bicara) kepada penguasa Mekkah yang kala itu diperintah oleh Abdul Syafii.
Pembicaraan kedua raja itu mengenai keinginan Sultan Agung untuk membangun makam di tanah Mekkah.
Namun, permintaan Sultan untuk dimakamkan di Mekkah ternyata tidak dikabulkan oleh Abdul Syafii dengan alasan Sultan dan kerabatnya bukan keturunan bangsa Arab.
Baca: Video Masjid Besar Pakualaman,12 Tiang Jati Penyangga Masjid Masih Kokoh
Kenyataan itu membuat hati Sultan gundah. Ia lantas mengambil satu kerikil (batu) dari tanah tersebut dan pulang mengadu kepada gurunya, Sunan Kalijaga.
Mendapatkan aduan dari sang murid, Sunan Kalijaga kemudian memberi wejangan (nasihat) dan memberi solusi kepada Sultan Agung.
"Oleh Sunan Kalijaga, kerikil yang dibawa oleh Sultan Agung itu kemudian dilempar jauh. Atas nasihat dari sang guru, Sultan Agung diminta untuk mencari lokasi jatuhnya batu tersebut," terangnya.