Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Besar Pakualaman,12 Tiang Jati Penyangga Masjid Masih Kokoh

Video Masjid Besar Pakualaman,12 Tiang Jati Penyangga Masjid Masih Kokoh

TRIBUNJOGJA.COM - Persis di sebelah barat Puro Paku Alaman, masjid ini berdiri. Masjid Besar Paku Alaman atau Masjid Puro Paku Alam namanya. Melihat arsitektur bangunan masjid ini tak lepas dari gaya bangunan Puro Paku Alam.

MEMASUKI serambi masjid ini, langsung disambut tulisan di sebuah tembok persis di tengah gerbang pintu masuk berbunyi "terus luhur terusto raharjo".

Kurang lebih ungkapan dalam bahasa Jawa ini bermakna, jalan lurus menuju kesejahteraan.

Masjid yang berlokasi di Kauman, Paku Alaman Yogyakarta ini didirikan pada tahun 1831 M oleh Sri Paduka Paku Alam II.

Muhammad Djati Hudaya, Wakil Ketua Takmir masjid ini menjelaskan, kala itu, BRM Surjadi atau Sri Paku Alam I (putra Sri Sultan Hamengku Buwono I) memberi instruksi kepada KRT Natadiningrat atau Sri Paku Alam II agar membangun sebuah masjid.

Penjelasan kapan masjid ini didirikan masih bisa dilihat pada prasasti dalam dua bahasa yakni Arab dan Jawa yang diletakkan pada dinding serambi Masjid.

Prasasti ini terdiri dari empat buah, dua prasasti dalam bahasa Jawa dan dua lagi dalam bahasa Arab.

Menurut literatur yang dimiliki Takmir Masjid, salah satu prasasti berbunyi "pemut kala adeging keagungan dalem mesjid. Amarengiing dinten Dite pon wanci jam astha, tanggal kadwi Ing Wulan riyaya Syawal, tahun wiyosipun Gusti Kanjeng Nabi Panutan Dal : sinengkalan pandhita obah sabda tunggal, mangsa sad lambang klawu Dukut windu Sangara : kawada ingkang ngresakaken ngyasani adeging jumungah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ridor Paku Alam ingkang jumeneng kaping Kalih : ingkang lelados atih Raden Riya Natareja lan Mas Penghulu Mustahil Hasranhin.

Baca: Video Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Dikelilingi Baluwarti Layaknya Kedaton

Artinya kurang lebih, peringatan pada waktu berdirinya masjid Puro Paku Alaman bersamaan dengan hari Ahad pon, waktu menunjukkan pukul 08.00 tanggal kedua bulan hari Raya Syawal, tahun kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad, tahun dal, diberi tanda tahun: Pandhita Obah Sabda Tunggal, mangsa enam, lambang klawu Dukut windu Sangara kawada.

Yang bermaksud mendirikan jamaah adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ridder Paku Alam II.

Halaman
12
Penulis: yud
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved