Gunungkidul

Menengok Sentra Kerajinan Tembaga di Blekonang Gunungkidul

Dusun Blekonang ini memang telah terkenal dengan pengrajin tembaganya kurang lebih 30 tahun.

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto P
Sutopo saat membuat kerajinan souvenir dari tembaga di rumahnya, Dusun Blekonang, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul 

Laporan Calon Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Dusun Blekonang di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Gunungkidul memang telah terkenal dengan pengrajin tembaganya kurang lebih 30 tahun.

Satu contohnya adalah Sutopo yang menjadi pengrajin souvenir tembaga selama sekitar 5 tahun. Padahal, awalnya ia hanya coba-coba.

Setiap harinya dibantu sang Istri ia membuat souvenir berupa miniatur dari bahan baku tembaga.

Banyak ragam miniatur buatannya misalnya miniatur becak dan andong.

"Miniatur dibuat dalam berbagai ukuran, miniatur terbesar tingginya 9 cm," katanty saat ditemui Tribunjogja, Minggu (27/5/2018).

Baca: Garuda Indonesia Berikan Bantuan pada 60 Pengrajin Batik dan 60 Nelayan

Bengkel pembuatan souvenir tersebut berada di samping teras rumah, dengan sekat dari papan kayu.

Proses pembuatan miniatur diawali dengan tembaga gulungan dibentuk per bagian dengan mencetak di cetakan yang sudah ada mulai dari ban, bodi becak, hingga sang pengayuh becak.

"Awalnya dibentuk dulu frame rodanya di cetakan, setelah itu dibuat detailnya seperti membuat jari-jari pelek becak, detail bodynya," ucapnya.

Dalam dua minggu ia mengaku dapat membuat sekitar 50 souvenir miniatur berbahan tembaga.

Setelah miniatur tersebut jadi, ia langsung menjualnya ke Kotagede, Yogyakarta.

"Jumlah pastinya tergantung kesulitan miniatur yang dibuat, semakin sulit detailnya semakin lama. tapi rata-rata setiap dua minggu dapat membuat 50 buah souvenir. Dulu pernah satu bulan nyetor ke Kotagede sebanyak 455 buah miniatur," tuturnya.

Dari sisi harga, miniatur terkecil ia hargai sebesar 22 ribu rupiah sedangkan yang terbesar seharga 45 ribu rupiah. Harga tersebut harga kotor belum dikurangi oleh modal awal," tuturnya.

Ia mengaku setiap bulannya jumlah permintaan souvenir tidak pasti naik turun tidak hanya itu saja bahan baku tembaga juga terkadang sulit didapat.

Baca: Pencuri Gasak Ratusan Meter Kabel Tembaga

"Bahan baku saya dapat dari Kotagede, jadi bahan baku dapatnya dari Kotagede menjualnya pun ke Kotagede," tuturnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved