Kopi Aroma

Kopi Aroma, Legenda Kopi dari Banceuy

Kopi Aroma, legenda kopi dari Banceuy yang sudah berdiri sejak 1930 silam di Bandung, Jawa Barat.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Pegawai pabrik Kopi Aroma tengah membungkus kopi produksinya 

Benar-benar cekatan dan terampil tangan mereka.

Ada yang menimbang, menuang kopi dari ember besar ke wadah logam, melipat kantong kertas, dan sigap melayani pembeli.

Widya Pratama, pemilik pabrik kopi Aroma sepintas sempat melongok dari pintu ujung yang di baliknya jadi tempat penggorengan dan penggilingan kopi.

Sosok inilah yang memiliki tangan dingin, membuat Kopi Aroma bertahan setelah nyaris ambruk tertelan zaman akhir tahun 60an.

Ia meneruskan usaha orangtuanya, Tan Houw Sian, yang didirikan sejak 1930.

Pembeli mengantre untuk mendapatkan Kopi Aroma
Pembeli mengantre untuk mendapatkan Kopi Aroma (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Widya Pratama mempertahankan semua proses tradisional Kopi Aroma.

Sejak penanaman dan pemeliharaan tanaman di perkebunan, hingga pengolahannya di pabrik Banceuy.

Pemasarannya juga tetap tradisionil, yaitu hanya melayani penjualan di tokonya yang sempit terjepit deretan toko mesin dan onderdil kendaraan.

Baca: Kuno Tapi Akurat, Alasan Ponpes Al Mina Tetap Gunakan Jam Bencet jadi Pedoman Waktu Salat

Resep ini membuat Kopi Aroma ikonik, menjadi salah satu titik penting persinggahan para pelancong ke kota yang dijuluki Parijs van Java ini.

Penjualan juga hanya ritel dan dibatasi per pembeli maksimum hanya boleh membawa 5 kilogram untuk dua jenis kopi olahan produk Kopi Aroma.

Ada dua jenis produk kopi bubuk yang diproduksi dan dijual Kopi Aroma. Yaitu kopi bubuk Aroma Mokka Arabika dan Robusta.

Untuk jenis Robusta terbagi tiga jenis berdasar level penggilingannya, yaitu Robusta halus, sedang, dan kasar. Harga Mokka Arabika per 250 gram dibanderol Rp 35.000. Itu kemasan terkecil.

Sedangkan Robusta per 250 gramnya Rp 25.000.

Meski di balik ruang penjualan adalah pabrik atau tempat produksi kopi, sekarang tak bisa sembarang pengunjung boleh melongok ke dalam.

"Sudah dua tahun terakhir tak boleh lagi liat langsung produksi di dalam," kata Kurnia, salah seorang pegawai bagian pengemasan dan penjualan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved