Serial Masjid Bersejarah
Masjid Gede Mataram Kotagede, Embrio Perkembangan Islam di Yogyakarta
Masjid yang kini juga menjadi salah satu destinasi wisata religi ini memiliki sejarah sangat penting
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Muhammad Fatoni
"Kalau diperhatikan di gerbang masjid akan ditemui pahatan kepala raksasa yang lazim ditemui dalam arsitektur bangunan Hindu. Sejarahnya memang dibantu masyarakat yang waktu itu memeluk Hindu," terang Warisman.
Lanjut Warisman, secara keseluruhan pembangunan Masjid ini dibagi menjadi dua tahap pembanguan.
Tahap pertama berupa pembangunan ruang inti masjid yang dibangun oleh Panembahan Senopati, dan pembangunan Serambi Masjid oleh Sultan Agung.
Jagang masjid
Selain membangun serambi Sultan Agung juga membangun jagang, yakni kolam yang mengelilingi masjid.
Fungsi jagang ini adalah tempat untuk mencuci kaki agar setiap orang yang memasuki masjid bersih dan terbebas dari kotoran. Selanjutnya, bila masuk ke ruang inti, maka akan terlihat desain unik atapnya.
Atap masjid ini disebut atap tumpuk dua dengan mustoko berbentuk gada dan ditopang dengan empat tiang.
Gada tersebut melambangkan sahadat dan keempat tiang melambangkan salat, puasa, zakat, dan haji.
Sedangkan mustoko dan keempat tiangnya melambangkan rukun Islam.
Bahan kayu yang digunakan untuk pembangunan masjid ini adalah kayu jati berasal dari Blora dan Cepu.
Meski sudah berusia ratusan tahun namun Kayu kayu tersebut masih kuat menopang hingga saat ini.
Selain kayu yang masih asli, tembok dan struktur bangunan Masjid tersebut masih sama dengan bentuk aslinya.
Di dalam masjid juga terdapat Bedug yang diberi nama Kyai Dondong dan Mimbar yang umurnya sama degan Masjid Gede Mataram Kotagede.
"Tradisi nya, setiap menjelang masuk Ramadan, bedug akan ditabuh bertalu talu sebagai penanda bahwa akan masuk bulan puasa," imbuh Warisman. (Yudha Kristiawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/masjid-kotagede1_20150516_154401.jpg)