Bantul
Mengenal Tradisi Nyadran di Makam Sewu Bantul
Tradisi ini merupakan tradisi untuk bersih-bersih makam dan pembacaan doa sebagai tanda berbakti kepada leluhur dan orang tua.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Langit teduh, berwarna jingga, lepas pukul tiga sore itu, ketika ratusan masyarakat Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, satu persatu berkunjung ke makam sewu.
Kondisi makam sewu berundak, terdapat gapura yang terbuat dari kayu di bagian depan makam.
Sore itu, msyarakat terlihat berduyun-duyun, satu persatu, menaiki anak tangga menuju ke area pemakaman.
Mereka datang ke makam membawa tampah kecil (tempat yang terbuat dari anyaman bambu) berisi bunga.
Seorang pengunjung makam sewu, Desya (21) mengatakan, ia sengaja datang ke makam sewu bersama keluarganya untuk mengunjungi leluhurnya yang telah meninggal dunia.
Tradisi nyadran ini sudah ia lakukan sejak kecil dan dilakukan secara turun temurun.
"Bagi saya sebagai orang Jawa, kegiatan ini sangat penting sebagai penerus tradisi. Untuk mengenalkan anak cucu kalau kita memiliki simbah buyut (leluhur)," terangnya.
Ia datang membawa tampah berisi bunga yang ditutup menggunakan daun pisang.
Kepada Tribunjogja.com, ia berkenan membuka tampah dan menunjukan isinya.
Didalam tampah tersebut terlihat ada bunga Mawar berwarna putih, Melati, Kenanga, hingga bunga Kanthil.
Macam-macam bunga tersebut akan ditabur di pesarean kerabat dan leluhurnya yang telah tiada.
Memasuki area makam sewu, suasana begitu teduh, terlihat orang-orang tengah membersihkan makam dan menaburkan bunga.
Ada juga yang terlihat tengah berdiam diri, membaca doa-doa di depan makam.
Tepat di tengah makam sewu terdapat sebuah pohon randu alas berukuran sangat besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-tradisi-nyadran_20180508_174132.jpg)