Bantul
Mengenal Tradisi Nyadran di Makam Sewu Bantul
Tradisi ini merupakan tradisi untuk bersih-bersih makam dan pembacaan doa sebagai tanda berbakti kepada leluhur dan orang tua.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Menjulang tinggi. Konon, randu alas ini sudah berusia ratusan tahun.
Juru Kunci Makam Sewu, Wahono, mengatakan, nyadran merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Wijirejo dan sekitarnya.
Menurutnya, tradisi ini sebagai Birrul Walidain, tanda bakti kepada orang tua dan leluhur.
"Nyadran di makam sewu itu dilakukan setiap bulan Ruwah, tanggalnya 20 keatas dalam penanggalan Jawa. Mendekati bulan Ramadan," ujar Wahono.
Wahono sudah 18 tahun menjadi juru kunci makam sewu yang juga merupakan tempat pesarean dari tokoh terkemuka, bernama Panembahan bodho.
Siapakah panembaham bodho?
Dijelaskan Wahono, Panembahan bodho merupakan tokoh masyhur penyebar agama islam abad 16 masehi di wilayah Wijirejo dan sekitarnya.
Nama lain dari Panembahan bodho adalah Raden Trenggono. Ia merupakan putra dari Adipati Terung II.
"Panembahan Bodho ini ada trah dari kerajaan Demak Bintaro," tegasnya.
Dirunut dari silsilah keturunan keluarga, Panembahan bodho atau dikenal juga Raden Trenggono merupakan putra dari Adipati Terung II yang juga merupakan putra dari Raden Kusen atau Adipati Pecatondho (Adipati Terung I).
Adipati Pecatondho merupakan putra dari Raden Aryo Damar (Adipati Palembang).
Adipati pecatondho sewaktu kecil bernama kusen, ia memiliki saudara beda Ibu bernama Raden Kasan atau dikenal juga Raden Patah.
Ketika dewasa Raden Patah ini kemudian menjadi Sultan pertama Demak Bintaro, bergelar Sultan Syakh Alam Akbar Al Fattah. Ia juga merupakan putra dari Brawijaya V (Raja terakhir Majapahit).
Meski memiliki darah ningrat, namun Raden Trenggono ternyata lebih memilih jalan hidup sederhana bersama masyarakat di dusun Kauman Pijenan, Desa Wijirejo.
Konon, sikapnya ini menjadi cemooh dan dianggap bodho (bodoh). Karena itulah, masyarakat mengenalnya dengan Panembahan bodho.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-tradisi-nyadran_20180508_174132.jpg)