Bantul
Mengenal Tradisi Nyadran di Makam Sewu Bantul
Tradisi ini merupakan tradisi untuk bersih-bersih makam dan pembacaan doa sebagai tanda berbakti kepada leluhur dan orang tua.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
"Raden Trenggono atau Panembahan bodho ini menyiarkan agama islam di dusun Kauman pijenan, Kelurahan Wijirejo, Pandak, selama kurang lebih 30 tahun," terang Wahono.
Panembahan bodho meninggal dunia pada tahun 1.600 masehi.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di pesarean makam sewu.
Berjarak kira-kira 1 km sebelah utara dusun Kauman Pijenan.
Panembahan bodho memiliki istri yang menemani berjuang menyiarkan agama Islam, bernama Nyai Brinthik.
Tak lama setelah suaminya, panembahan bodho wafat, Nyi Brinthik kemudian akhirnya menyusul ke alam baka.
Ia meninggal dunia di Kauman.
Ketika hendak dimakamkan di pemakaman sewu bersanding dengan makam panembahan bodho, jalan menuju pesarean terhalang oleh meluapnya Sungai Bedhog yang sedang banjir kala itu.
Sehingga jenazah Nyi Brinthik akhirnya dimakamkan di dusun Karang benyo.
"Lokasinya 300 meter sebelah barat dusun Kauman," tutur Wahono.
Atas jasa perjuangan dan syiar Islam yang dilakukan Panembahan bodho, setiap bulan Ruwah, menjelang bulan Ramadan, masyarakat desa Wijirejo dan sekitarnya selalu menyelenggarakan tradisi Nyadran.
Tradisi ini merupakan tradisi untuk bersih-bersih makam dan pembacaan doa sebagai tanda berbakti kepada leluhur dan orang tua. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-tradisi-nyadran_20180508_174132.jpg)