Jawa
Keterbatasan Tak Halangi Guru Tunanetra Ini Mengajar di Sekolah Umum
Ujang terlahir dengan kondisi mata yang tak dapat membuka, sampai dokter menyatakan bahwa matanya tak dapat berfungsi.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
Ari juga menganggap Ujang sebagai sosok yang optimis, dan pantang menyerah.
Dirinya menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Semua hal itulah yang membuat Ari mencintai Ujang, sebagaimana Ujang mencintai dirinya.
"Baik, romantis, itu yang menjadikan saya mencintai bapak. Meskipun tak dapat melihat, saya menerima bapak apa adanya. Saya tak pernah lelah, ngurusin bapak kemana mana, nganter ke mana-mana, itu sudah kewajiban saya menjadi seorang istri," tutur Ari, di sela-sela saat mendampingi Ujang mengajar di kelas XI ATU SMK Negeri 1 Salam.
Cita-cita Ujang menjadi seorang guru memang sudah tercapai.
Tetapi di dalam lubuk hatinya, dia masih memiliki harapan terhadap pendidikan di Indonesia.
Dia menginginkan pendidikan inklusi dapat sepenuhnya diterapkan.
Melalui hal itu, maka masyarakat dapat menjadi semakin humanis.
Menurutnya membangun sebuah masyarakat dimulai dari masyarakat yang plural.
Dari pendidikan inklusi lah hal tersebut dapat terbangun.
Adanya keragaman yang ada itu, dapat membentuk kepribadian siswa agar memahami disabilitas.
"Semakin pendidikan itu inklusi, masyarakat akan semakin humanis. Persoalannya bukan memberi hak atau kasihan kepada difabel, tetapi karena kita ini masyarakat yang plural, kalau mau membangun masyarakat ya dimulai dari Masyarakat tidak bisa inklusif. Nah dari pendidikan inklusi itulah maka kepribadian siswa dapat terbentuk," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ujang-kamaludin-guru-tunanetra_20180502_211316.jpg)