Jawa

Keterbatasan Tak Halangi Guru Tunanetra Ini Mengajar di Sekolah Umum

Ujang terlahir dengan kondisi mata yang tak dapat membuka, sampai dokter menyatakan bahwa matanya tak dapat berfungsi.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Ujang Kamaludin (43), saat mengajar di depan siswa kelas XI jurusan ATU di SMK Negeri 1 Salam, Kabupaten Magelang, Rabu (2/5/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Kata-kata itu lah yang selalu diingat oleh Ujang Kamaludin (43), seorang tunanetra dengan keterbatasan penglihatan akan tetapi tekad dan semangat hidup yang begitu besar.

Penggalan kata itu juga yang menjadi alasan Ujang menjadi seorang guru, agar dapat bermanfaat kepada orang lain.

Ujang Kamaludin (43) memang sosok guru yang berhasil melampaui segala keterbatasan dan memangkas semua pandangan negatif dari masyarakat bahwa seorang penyandang disabilitas tak dapat hidup bermandiri, alih-alih bermanfaat untuk orang lain.

Namun sebaliknya, pria tanpa penglihatan itu berhasil membuktikan dirinya kepada orang-orang bahwa seorang difabel pun mampu dan dapat bermanfaat untuk orang lain.

Buktinya, dirinya berhasil menjadi guru, mengajar pendidikan agama kepada ratusan siswa, di sebuah sekolah umum di Kabupaten Magelang, yakni di SMK Negeri 1 Salam.

Luar biasa untuk seseorang dengan penyandang disabilitas, tak dapat melihat, tetapi mampu mengajar dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

"Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, itu yang mendorong saya untuk menjadi seorang guru. Meski dengan kekurangan yang saya miliki, tetapi saya tak putus asa, dan terus belajar dan bekerja keras, sampai saat ini alhamdulillah, saya dipercaya menjadi seorang guru, cita-cita mulia yang sedari dulu saya inginkan," tutur Ujang, Rabu (2/5/2018) saat ditemui di kantornya di sudut SMK Negeri 1 Salam, Magelang.

Sebuah awal memang tak pernah selalu mudah.

Perjuangan yang ditempuhnya begitu panjang, suka dan dukanya untuk meraih cita-citanya menjadi seorang guru juga teramat pahit.

Ujang terlahir dengan kondisi mata yang tak dapat membuka, sampai dokter menyatakan bahwa matanya tak dapat berfungsi.

Meskipun berat, orangtuanya pun hanya pasrah menerima kenyataan pahit tersebut.

Dirinya besar dan tumbuh dengan kedua mata yang tak dapat melihat sedari lahir, bahkan sampai saat ini.

Namun Ujang tak pernah menganggap keterbatasan yang dimilikinya sebagai kekurangan, namun justru sebagai amanah dari Tuhan dan sebagai pelajaran untuk orang-orang.

Tekadnya, ingin menjadi tunanetra yang terbaik, yang bermanfaat untuk orang banyak.

"Sejak lahir, sudah menjadi tunanetra. Konon, begitu lahir sampai 40 hari, mata begitu rapat, hanya ada tanda seperti goresan potlot. Dari situ sampai sekarang, dan saya tak dapat melihat. Namun di hati, saya tetap bahagia. Tak pernah sekalipun saya merasakan minder. Saya tak dapat melihat bukan karena ketelodoran orangtua saya, ini adalah amanah tuhan, untuk memberikan pelajaran, bagimana untuk menjadi tunanetra yang terbaik dan bermanfaat bagi orang-orang," katanya.

Kendati tak dapat melihat, niatnya untuk belajar begitu besar.

Bahkan ada cerita yang membuat ibunya menangis melihat dirinya semasa kecil membuat sendiri bentuk huruf-huruf alphabet dari potongan kayu bambu dan ditempelkannya di dinding gubuk rumah dulu, lalu Ujang merapalkannya, menyebut satu per satu huruf.

Semua ini dilakukan hanya untuk belajar aksara.

"Dulu itu saya bikin bentuk-bentuk huruf dari bambu, saya hafal dan ucapkan bentuknya. Itu sempat membuat ibu saya trenyuh dan hampir menangis. Niat saya ingin bersekolah dan belajar seperti anak-anak lainnya," ujarnya.

Ujang berhasil menempuh pendidikannya dari SD sampai meraih gelar master.

Pendidikan SD hingga SMP di Bandung berhasil ditempuhnya lulus.

Kemudian dirinya melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Maguwoharjo pada tahun 1993.

Usai lulus MA, Ujang berhasil diterima di Universitas Islam Indonesia dengan jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam, lulus dengan beasiswa tahun 1996.

Seakan tak cukup akan pengetahuan, Ujang melanjutkan dengan pendidikan S2, di Universitas Islam Indonesia dan berhasil menyelesaikan gelar master selama kurang dari dua tahun di tahun 2002.

Selepas itu dirinya mendaftarkan diri sebagai guru di Kementerian Agama dan diterima.

Awal karir mengajarnya dari SLB Ma'arif selama tiga tahun, kemudian dipindah ke SMK Sholikhah Muntulan, dan terakhir ini sampai sekarang di SMK Negeri 1 Salam.

"Total sudah 15 tahun saya menjadi seorang guru, dan tak pernah ada merasakan lelah, capek, atau apa. Saya senang mengajar, dan ada rasa bahagia ketika saya mengajar anak-anak," tuturnya.

Awal mula menjadi guru di sekolah umum memang tak mudah.

Dirinya harus menyesuaikan medan di sekolah, letak ruang kelas, bahkan sampai posisi papan tulis, pintu dan kursi siswa.

Sempat pernah beberapa kali terbentur barang-barang karena belum terbiasa dengan lingkungan baru di sekolah.

"Ada juga pandangan negatif kepada saya, mengapa saya harus susah-susah mengajar di sekolah umum. Difabel harusnya ngajar di SLB saja. Justru di sekolah umum, saya dapat banyak pengalaman, banyak teman. Yang diajar juga bukan saja ilmunya, tetapi motivasi kepada siswa, bagaimana membesarkan hati mereka agar tetap dapat berusaha belajar meski dengan keterbatasan," ujarnya.

Jumlah siswa yang diajarnya kurang lebih terdapat 400 siswa, yang berasal dari 13 kelas, dan setiap kelas diisi 32 siswa.

Meskipun ratusan, Ujang mampu mengingat sebagian besar nama siswanya dengan mengenali suara mereka.

Pasalnya, setiap ujian dirinya menerapkan ujian lisan.

Siswanya dipanggil satu per satu, sehingga dirinya dapat mengenali siswanya satu persatu.

Caranya mengajar pun sama seperti guru pada biasanya. Ujang mengajar secara lisan kepada anak-anak. Kadang dirinya juga menuliskan bahan pelajaran, materi soal, atau ujian dengan mengetikkannya ke dalam komputer jinjing dan membagikannya kepada siswa.

Meski tak dapat melihat, dirinya hafal 10 jari buta ketik dan mengetik pekerjaannya di komputer dengan lancar.

"Mulai dari ngetik materi pelajaran, menuliskan presensi, menuliskan raport, semua saya lakukan di laptop. Dibantu dengan voice speech. Memang perlu penyesuaian, tetapi saya cepat dapat menyesuaikan diri, dan dapat mengajar anak-anak. Alhamdulillah, mereka paham apa yang saya ajarkan," ujarnya.

Istrinya, Ari Titik Handayani (42) senantiasa menemaninya kemanapun Ujang pergi.

Mulai dari saat menyiapkan makanannya di pagi hari, memilih dan menyetrika baju seragam guru yang dipakainya, mengantarkannya ke sekolah setiap hari dari Sleman ke Salam, Magelang, menemaninya saat mengajar di kelas, dan membantunya mengajarkan pelajaran kepada para siswa di kelas.

"Istri saya adalah asisten saya. saya terbantu juga karena istri saya. Mengajar, mengurusi saya, memasak buat saya, mendandani saya. kesuksesan saya juga dari istri saya," kata Ujang.

Di mata sang istri, Ari Titik Handayani (42), Ujang memang sosok suami dan ayah yang baik.

Dari pernikahannya, dirinya dikaruniai dua orang anak.

Ari juga menganggap Ujang sebagai sosok yang optimis, dan pantang menyerah.

Dirinya menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Semua hal itulah yang membuat Ari mencintai Ujang, sebagaimana Ujang mencintai dirinya.

"Baik, romantis, itu yang menjadikan saya mencintai bapak. Meskipun tak dapat melihat, saya menerima bapak apa adanya. Saya tak pernah lelah, ngurusin bapak kemana mana, nganter ke mana-mana, itu sudah kewajiban saya menjadi seorang istri," tutur Ari, di sela-sela saat mendampingi Ujang mengajar di kelas XI ATU SMK Negeri 1 Salam.

Cita-cita Ujang menjadi seorang guru memang sudah tercapai.

Tetapi di dalam lubuk hatinya, dia masih memiliki harapan terhadap pendidikan di Indonesia.

Dia menginginkan pendidikan inklusi dapat sepenuhnya diterapkan.

Melalui hal itu, maka masyarakat dapat menjadi semakin humanis.

Menurutnya membangun sebuah masyarakat dimulai dari masyarakat yang plural.

Dari pendidikan inklusi lah hal tersebut dapat terbangun.

Adanya keragaman yang ada itu, dapat membentuk kepribadian siswa agar memahami disabilitas.

"Semakin pendidikan itu inklusi, masyarakat akan semakin humanis. Persoalannya bukan memberi hak atau kasihan kepada difabel, tetapi karena kita ini masyarakat yang plural, kalau mau membangun masyarakat ya dimulai dari Masyarakat tidak bisa inklusif. Nah dari pendidikan inklusi itulah maka kepribadian siswa dapat terbentuk," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved